Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2018

Kisah Ajaib di Masjid Nabawi

Kesombongan hati itu kadang-kadang tidak kelihatan tapi dapat dirasakan. Dan di tempat suci, kesombongan akan mendapatkan ganjarannya.




Saat itu saya sudah sekitar tujuh kali pergi ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah. Dua kali ibadah haji dan selebihnya ibadah Umroh. Secara pelan tapi nyata setan mengarahkan saya menjadi sombong dan tinggi hati, karena merasa sudah sering mengunjungi Al Haromain (dua masjid suci). Astaghfirullahal adzim….

Tahun lalu di Ibadah Umroh yang terakhir, saya kena batunya. Seperti biasa jama’ah berziarah ke Masjid Nabawi di Madinah terlebih dahulu sebelum melakukan Umroh ke Makkah. Kami bersama rombongan Jama’ah Umroh Pesantren Tahfizh Al Qur’an “Griya Qur’an”. Santri-santri mereka yang bisa menyelesaikan hafalan Qur’an sampai suatu standar tertentu mendapatkan hadiah Subsidi Umroh.


Di dalam Masjid Nabawi terdapat makam Yang Mulia Baginda Nabi Muhammad Shallaallahu 'Alaihi Wa Sallam beserta dua sahabatnya yaitu: Abu Bakar Shiddiq dan Umar bin Khattab. Tempat ini merupakan tempat ziarah utama di Madinah. Sehingga setiap kali orang sampai di Madinah, maka yang mereka cari pertama kali adalah berziarah ke makam tersebut. Dan biasanya dilakukan setelah sholat jama’ah di Masjid Nabawi.

Sesampainya di hotel di Madinah, para jama’ah sudah heboh mau cepat-cepat sholat Ashar di Masjid Nabawi, dengan harapan segera dapat berziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW. Terutama para santri hafizh Qur’an yang masih muda-muda. Ini merupakan pengalaman pertama mereka berkunjung ke Masjid Nabawi.

Saya, sebagai orang yang sudah “berpengalaman”, cuma senyum-senyum saja. Saya ikut sholat jama’ah Ashar ke Masjid Nabawi tapi dalam hati sudah berniat untuk langsung balik ke hotel setelah selesai sholat. Saya berpikir “ahh… gue udah sering ke Makam Nabi SAW, besok aja deh… masih capek nih”

Sehingga kemudian ketika para santri dan jama’ah Umroh rombongan kita pergi berduyun-duyun antri ke area Raudhoh (area “Taman Surga” di Masjid Nabawi, disamping Makam Nabi Muhammad SAW), saya sendirian menyelinap pulang ke hotel.

Ketika maghrib datang, kita kembali sholat Jama’ah Maghrib dan Isya ke Masjid Nabawi. Antara Maghrib dan Isya ada yang pulang dulu ke hotel untuk makan malam dan ada yang tetap di masjid untuk mengikuti ceramah agama yang disediakan di beberapa titik area masjid dalam berbagai bahasa. Saya memilih untuk “stay” di masjid untuk mendengar ceramah yang berbahasa Indonesia. Saat itu penceramahnya adalah ustadz Firanda Andirja yang sering muncul di Radio Rodja.

Dalam benak saya tercetus niatan untuk berziarah ke Makam Nabi Muhammad saw setelah usai sholat Jama’ah Isya. Tapi kemudian setelah sholat Isya selesai pikiran “sesat” kembali dihembuskan ke dalam kepala saya oleh syaithonirrojim. Tiba-tiba saya merasa lapar sehingga akal bulus saya memakai alasan “lapar” itu untuk tidak segera menziarahi Makam Nabi Muhammad saw ba’da Isya. Padahal kemudian di hotel, menu malam itu juga tidak bagus-bagus amat. Di Hotel malah justru saya mendengar celotehan dari jama’ah Umroh tentang pengalaman pertama mereka berziarah ke Makam Rasulullah SAW. Pada umumnya mereka bercerita betapa gemetarnya hati mereka dengan kerinduan yang dalam ketika berada pada jarak yang sangat dekat dengan makam junjungan kita, idola terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.


Akhirnya malam itu saya tidur dengan agak cuek dan tidak lagi memikirkan tentang Makam Nabi Muhammad SAW. Rencana beberapa jama’ah untuk pergi lagi ziarah ke Makam setelah sholat Qiyamullail tidak terlalu saya hiraukan. Saya senantiasa berpikir… “ah… itu bisa kapan saja kok… masih ada waktu…”. Dan akhirnya Subuh tiba, dimana kita semua pergi ke Masjid Nabawi kembali untuk menunaikan sholat Subuh berjama’ah. Sholat di Masjid Nabawi tentu tidak boleh terlewatkan, mumpung sudah ada di Madinah. Sholat di Masjid Nabi ini pahalanya 1000 kali lipat dari sholat di masjid lain. Yang bisa mengalahkan hanya Masjidil Haram dan Masjidil Aqsho saja.

Anehnya ketika akan, sedang, dan setelah Sholat Subuh di Masjid Nabawi saat itu, saya tidak lagi punya ingatan untuk ziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW. Yang saya ingat-ingat justru nomor tempat loker sandal saya. Sebenarnya bukan loker tapi sekedar rak saja. Yang berjejer sangat banyak di sisi-sisi shaf sholat. Tapi jumlah rak ada ratusan bahkan ribuan. Karena jama’ah di masjid sebesar Masjid Nabawi ini adalah puluhan ribu. Kalau kita tidak ingat nomor rak sandal akan sangat merepotkan, susah untuk mendapatkannya kembali.

Demikianlah, saya hafalkan nomor rak itu. Kalau tidak salah nomor 132. Dalam benak saya terujar, “Ok, habis Sholat Subuh, dzikir dan tilawah, aku bisa cepat ambil sendal dan terus pulang ke hotel.., siiiplah…”.

Dan datanglah keajaiban itu… Saya tidak bisa menemukan sandal saya. Angka 132 yang sudah tertancap di kepala saya ada tertera di nomor rak sandal. Tetapi sandal saya tidak ada. Saya jadi ragu… apakah 132 atau 213 atau 312…? Saya susuri rak-rak sandal di sepanjang barisan shaf masjid yang luar biasa besar tersebut. Berpapasan dan bertabrakan dengan ratusan orang jama’ah dari segala ras dan suku bangsa. Tidak juga saya temukan. Padahal jelas-jelas di dalam kepala saya tertanam angka 132 dan gambaran dari rak itu beserta sandal saya yang bertengger di atasnya.

Saya terus mencari-cari sandal ke dalam masjid, berpapasan dengan orang yang seliweran dengan urusannya masing-masing. Dan saya merasakan makin lama orang-orang di sekitar saya kok makin berdesak-desakan… Saya istighfar… Ya Allah ada apa dengan saya? Saya merasa ada yang aneh… Saya seperti terbawa gelombang manusia, saya tidak lagi berjalan sesuai dengan arah yang saya inginkan. Tapi saya merasa dibawa oleh gelombang manusia yang besar. Saya istighfar, saya bertasbih, saya bertahlil dan berdoa… Ya Allah … makin lama saya makin menyadari bahwa gelombang ini adalah antrian jama’ah yang akan menuju Raudhoh… Taman Surga tempat Makam Nabi Muhammad SAW dan dua sahabatnya berada…. Saya gugup, saya istighfar dan saya menangis… yaa Allah… yaa Rasulullah… Ampuni aku Yaa Allah Yaa Rasululloh… Ampuni hamba-Mu yang sombong dan arogan ini yaa Allah… Ampuni hamba-Mu yang tidak punya sopan santun dan tata krama sama sekali pada Rasul-Mu ini yaa Allah…


Saya menangis, saya istighfar, saya ucapkan dua kalimat syahadat berkali-kali sambil terus ikut arus antrian manusia yang menuju Radhotul Jannah, Taman Surgawi…  Dan akhirnya giliran saya bersama sekitar seratus manusia diberi kesempatan masuk ke Raudhoh, area tepat di samping Makam Rasulullah SAW, tempat kita bisa sholat, berdoa, bermunajat sepuasnya mengharap hidayah, ridho-Nya dan meminta ampunan Allah SWT serta melepas rindu pada kekasih kita, manusia tersuci sepanjang jaman, Nabi Muhammad SAW. Saya sholat sunnah di situ sambil menangis sejadi-jadinya. Saya tersungkur, terbetot oleh perasaan berdosa yang amat sangat. Saya memohonkan ampun atas semua dosa-dosa saya, terutama terhadap kesombongan saya yang luar biasa dua hari itu… Saya tersungkur di hamparan karpet Raudhoh Bersama ratusan jama’ah sebelum akhirnya dihalau keluar oleh Askar (petugas Masjid) untuk memberi kesempatan gelombang jama’ah berikutnya. Ketika meninggalkan Raudhoh, kembali lagi saya menangis sesenggukan berjalan di depan Makam Rasululloh SAW, Makam Abu Bakar dan Makam Umar bin Khattab sambil terus bershalawat pada Nabi...

Saya keluar dari pintu Masjid Nabawi dekat Kubah Hijau. Kemudian saya masuk masjid lagi dari pintu sisi lain yang agak jauh untuk pulang ke hotel, karena lebih mudah dan lebih enak ke arah hotel melalui bagian dalam masjid.

Saya kembali berpapasan dengan banyak jama’ah dari berbagai ras dan suku bangsa dengan urusannya masing-masing. Akan tetapi tujuan utama mereka ke Masjid Nabawi ini tentulah sama, yaitu: menziarahi Makam Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam


Secara naluriah saya menuju ke deretan rak-rak sandal, mencari rak sandal nomor 132. Hey, dia ada di situ… Sandal saya. Bertengger dengan anggun di atas rak. Saya ambil sandal saya seraya mengucap tahmid: Alhamdulillah. Saya menuju pintu keluar masjid yang searah dengan hotel saya. Di luar pintu, saya pakai sandal saya dan berjalan kaki pulang ke hotel.

Hari telah terang. Langit Madinah cerah seperti biasanya. Saya melirik matahari. Saya melihat ada senyum Rasulullah di sana. Saya tersenyum juga sambil menunduk malu. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala aliy Muhammad...


Selasa, 16 Agustus 2016

Tarawih di Dua Masjid Suci

Tepat mulai malam pertama Ramadhan, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menyelenggarakan sholat tarawih berjama'ah.

Jumlah raka'atnya 23, serupa dengan sebagian masjid2 di tanah air. Yang tidak sama adalah panjang dan indahnya ayat Qur'an yg dibaca. Rasulullah saw pernah mengatakan bahwa "Sebaik-baik sholat adalah yg lama berdirinya". Maksudnya "lama berdiri" adalah ayat2 Al Qur'an yg dibaca panjang.

Di masjid Haromain (dua masjid suci) dalam satu rakaat ayat yg dibaca biasanya satu halaman Qur'an, kadang lebih. Artinya dalam 23 rakaat akan dibaca 23 halaman yg sama dengan satu juz lebih.

Cara baca Imam Sholat sangat tartil tidak cepat2, berurutan dari satu ayat ke ayat berikutnya. Suaranya sangat indah dan menyentuh. Membuat hati orang2 beriman bergetar dan semakin bertambah imannya.

Santri2 penghafal Qur'an yg pergi ibadah umroh di bulan Ramadhan akan mendapat pengalaman luar biasa. Al Qur'an yg sudah ada cikal bakalnya di hati mereka langsung beresonansi ketika mendengar ayat2 Qur'an dibacakan dalam sholat tarawih. Mereka bukan sekedar bisa muroja'ah hafalan, tapi juga bisa merasakan mu'jizat Qur'an yg menggetarkan jiwa2 dengan luar biasa.

Di depan mereka ada seorang Imam Sholat, seorang Syaikh Masjidil Haram atau Masjid Nabawi mengimami sholat dengan sepenuh hatinya. Memancar ke seluruh jama'ah, Kalam Ilahi yg Maha Agung. Kadang menyentak membawa rasa khauf (takut), kadang menyeruakkan kesejukan yg luar biasa dengan roja' (harapan) akan ke Maha Pengampunan Allah yg tiada tandingnya.

Imam itu sekaligus cerminan masa depan mereka. Seorang penghafal Qur'an pasti pernah punya cita2 untuk bisa mengimami ribuan jama'ah, bukan untuk riya, tapi mengamalkan "balighu anni walaw ayah" sampaikan dariku walau satu ayat, mengajak manusia kepada Kalimat Allah yg tinggi.

Imam Sholat Masjid Haromain adalah role model dari para santri penghafal Qur'an.

Bersyukurlah kita karena Allah memberi kesempatan untuk membawa santri Griya Qur'an* umroh di bulan Ramadhan.

Subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaha illaLlah, wallahu akbar!


*) Pesantren Tahfidz "Griya Qur'an". Jalan Sawo no: 10. Kukusan. Beji. Depok.
www.griyaquran.net 

Selasa, 10 Mei 2016

Suasana Tawaf di Masjidil Haram

Suasana Tawaf mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram pada bulan April 2012 menjelang maghrib waktu Mekkah.


Diambil dari lantai empat (atap) Masjidil Haram.

Minggu, 11 Oktober 2015

Lady Gaga Masuk Desa

Penerbangan dari Denpasar menuju Bima hanya bisa menggunakan pesawat kecil. Merpati menyediakan pesawat dengnan 14 baris kursi. Masing2 baris terdiri dari 4 seats. Jadi kapasitas pesawat komersil kecil tersebut adalah 56 kursi, mirip dengan bus pariwisata yang sering saya carter Jakarta - Puncak.

Pesawat baling-baling itu akan menerbangi Selat Lombok (antara Pulau Bali dan Pulau Lombok) dan Selat Alas (antara Pulau Lombok dengan Pulau Sumbawa). Kemudian pesawat terus "berlayar" sampai ke ujung Timur Pulau Sumbawa yaitu kota Bima.

Kita mendarat di Bandara Bima yang bernama Bandar Muhammad Salahudin. Bandaranya kecil saja sebagaimana bandara-bandara kota kecil di tanah air. Terlihat beberapa turis bule yang sama2 terbang dari Bali dengan membawa papan selancar yang besar2. Kelihatannya di Bima ada pantai yang bagus untuk berselancar nih...

Tempat pesta walimahan Ustadz Alamsyah bukan di kota tetapi di desa yang cukup jauh dari kota Bima. Sebenarnya jarak tempuh dari kota ke desa Rupe tempat walimahan bisa ditempuh dalam satu jam. Tetapi - atas kehendak Allah - malam sebelumnya ternyata terjadi banjir besar di Bima, konon banjir paling besar yang pernah terjadi di kota itu. Sehingga ada jembatan vital yang menghubungkan kota Bima dengan desa-desa di Kabupaten Bima yang hancur. Terpaksa perjalanan dari kota ke desa harus melewati jalan "bawah" yang lebih jauh. Waktu tempuhnya jadi dua setengah jam. Tetapi kondisi jalannya relatif bagus dengan melewati lembah pegunungan pada awalnya untuk kemudian menyusuri pantai pada akhirnya.

Pemandangannya? Jangan ditanya! Bagi "orang kota" kayak saya (sok orang kota nih) ada lokasi-lokasi yang benar-benar seperti surga. Salah satunya adalah ketika kita melewati lembah yang isinya adalah sawah luas yang menghijau. Kami seperti berada di dalam mangkuk raksasa. Pinggir "mangkuk"nya adalah pegunungan dan perbukitan, tetapi dasar mangkuk itu adalah dataran melandai yang diisi dengan sawah yang subur menghijau. Sementara hasil-hasil kebun ditarik dengan kereta kuda tampak di beberapa tempat. Subhanallah! Rasanya saya ingin melompat ke luar mobil dan tinggal di situ berlama-lama.

Ketika meyusuri pantainya pemandangan juga lumayan indah, tetapi tidak secantik pantai-pantai di Sulawesi. Apalagi karena jalan yang dekat pantai banyak yang rusak atau memang belum jadi jalan. Masih jalan sirtu (pasir batu) yang bikin ban mobil jadi tersiksa.

Di kanan kiri jalan sepanjangan perjalanan mulai banyak terlihat rumah-rumah panggung. Juga tampak kehidupan masyarakat Bima dengan pasar, sekolah, deretan rumah-rumah dan mesjid. Beberapa mesjid tampak dalam "pembangunan" yang artinya hanya terlihat tiang-tiang dan tembok-tembok setengah jadi.


Senin, 30 Desember 2013

Remaja Fasih 20 Bahasa

Ini adalah remaja Amerika yang menguasai lebih dari 20 bahasa dengan cukup fasih. Termasuk Bahasa Perancis, Bahasa Arab, Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia!

Orang-orang seperti ini disebut sebagai Polyglot. Mengagumkan! :-)


 

Bisa juga dilihat di sini:


Ini Tim dengan Bahasa Indonesia:

 


Ada remaja lain, dari Amerika juga tetapi keturunan Asia, yang belajar Bahasa Indonesia secara otodidak. Linknya di sini:


Dan link berikut adalah remaja dari Ukraina yang juga Polyglot:


Courtesy of Youtube! 

Kamis, 19 Desember 2013

Anak Seorang Imam dan Nenek Amsterdam

Setiap selesai sholat Jum'at tiap pekannya, seorang Imam (masjid) dan anaknya (yang berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku – buku islam, diantaranya buku At-Thoriq Ilal Jannah (Jalan Menuju Surga). Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran kota Amsterdam.



Namun tibalah suatu hari, ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin. Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin.



Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, aku telah siap"

Ayahnya menjawab : "Siap untuk apa?"

Ia berkata: "Untuk membagikan buku (seperti biasanya)"

Sang ayahpun berucap: "Suhu sangat dingin diluar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur".

Sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan: "Akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju neraka di luar sana dibawah guyuran hujan"

Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata: "
Namun ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini"

Akhirnya anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak dan akhirnya memberikan izin. Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata: "terimakasih wahai ayahku".

***

Di bawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.

***

Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya. Namun sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah disebrang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.

Sesampainya di depat rumah, iapun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya. Sebenarnya ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut.

Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih. Nenek berkata: "Ada yang bisa saya bantu nak?"

Si anak berkata (dengan mata yang berkilau dan senyuman yang menerangi dunia): "Saya minta maaf jika mengganggu, akan tetapi saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan nyonya. Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada nyonya, di dalam nya dijelaskan tentang Allah Ta'ala, kewajiban seorang hamba, dan tips-tips memperoleh keridhoan-Nya.



***

Satu pekan berlalu, seperti biasa sang Imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah ia mempersilahkan jama'ah untuk berkonsultasi. Terdengar sayup – sayup dari shaf perempuan seorang perempuan tua berkata:"Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya. Satu pekan yang lalu saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini".

Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu.
Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sdh kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel.

Aku terdiam sejenak dan berpikir: "Paling sebentar lagi juga pergi".

Namun suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati: "Siapa gerangan yang sudi mengunjungiku,… tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku"

Kulepaskan tali yang s
udah siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. Ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian.
Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali.

Ia berkata: "Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah Ta'ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya", lalu dia memberikan buku ini (buku Jalan Menuju Surga) kepadaku.

Malaikat kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan hari itu juga secara tiba2. Setelah menutup pintu aku langsung membaca buku dari malaikat kecilku itu sampai selesai. Seketika kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi.

Sekarang lihatlah aku, diriku sangat bahagia karena aku telah mengenal Tuhanku yang sesungguhnya. Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterimakasih kepada kalian yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada waktu yang tepat. Hingga aku terbebas dari kekalnya api neraka.

***

Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung, masjid bergemuruh dengan isak tangis dan pekikan takbir… Allahu akbar…

***

Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk dan memeluknya erat, dan tangisnyapun pecah tak terbendung dihadapan para jamaah.
Sungguh mengharukan, mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.

***

Judul asli : قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة
Penerjemah : Shiddiq Al-Bonjowiy

Kamis, 27 Desember 2012

HABIBIE dan AINUN


Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

B.J. Habibie untuk Ainun 

Rabu, 26 Desember 2012

Catatan dari GAZA 2

Dari Kinanah ke Bumi Al Quran

Oleh: Salim A. Fillah





“Dahulu kami meninggalkan Al Quran”; ujar seorang bapak dari keluarga Syamallekh di Masjid Syaikh ‘Ajleyn sebakda Shubuh ketika kami berhalaqah Quran; “Maka Allah pun mencampakkan kami dalam kehinaan di kaki penjajah Zionis. Kami terjajah, tertindas, & hancur; lalu mencoba mencari pegangan dalam gelap; harta, kedudukan, senjata. Tapi itu semua hanya membuat kami kian terpuruk. Kini kami kembali pada KitabuLlah; alhamduliLlah, kami bisa berdiri tegak, berwajah cerah, & bersemangat dalam perlawanan seperti kalian saksikan.”

Ya, kami memang menyaksikannya. Amat keliru jika membayangkan Gaza itu miskin, kumuh, sakit, sedih, & lesu. Yang kami saksikan di mana-mana sejak masuk dari Rafah adalah ketegaran, senyum yang mengembang, sambutan yang hangat; bahkan juga betapa rapi, bersih, hijau, jelitanya kawasan. Setidaknya bila dibandingkan tetangganya; Mesir si ibu peradaban.

Kami bersyukur memasuki Gaza ketika Presiden Mesir sudah bukan lagi Husni Mubarak. Al Akh Muhammad Mursi; jazahuLlahu khairan katsira. Menurut seorang Relawan yang pernah masuk Gaza tahun lalu; betapa terhina kita di hadapan petugas imigrasi Mesir kala itu. Sepuluh pos pemeriksaan oleh tentara sejak dari jembatan Terusan Suez hingga gerbang Rafah sudah menyulitkan dengan berbagai tanya & penggeledahan; belum lagi wajah yang suram, jelek, & mengejek itu. Dan akhirnya; keleleran bagai pencari suaka dengan jam-jam menunggu yang tak jelas di tengah tatapan angkuh & melecehkan wajah-wajah yang seakan begitu asing dari wudhu’ & membenci semangat berkeshalihan.

Al Akh Muhammad Mursi; jazahuLlahu khairan. Kini wajah tentara & petugas imigrasi berubah; bukan cuma cerah oleh wudhu’, sebagiannya malah berbekas sujud. Senyum bertebaran, dan ada yang berkata titip cinta untuk Gaza. Pos-pos pemeriksaan tentara tak lagi menghalangi; justru mereka menyediakan pengawalan 2 mobil patroli; yang meski justru agak memperlambat; tapi kami memahami maksud baiknya. Di gerbang imigrasi Mesirpun hanya soalan sederhana, “Sudah berkoordinasi dengan Gaza?” Saat dijawab ya; dia tersenyum dan membubuhkan capnya. Lega. AlhamduliLlah.

Maka dibanding Kairo yang hiruk pikuk, Gaza adalah kesyahduan. Dari Sinai yang gersang, Gaza adalah kesejukan. Alih-alih El ‘Arisy yang nyaman, Gaza adalah kemesraan. Sejak Rafah-Gush Katif-Khan Yunis-Deiril Balah-Gaza City-Jabaliya; yang tampak bukan keterjajahan melainkan perlawanan; bukan kesayuan namun kegairahan; bukan keputusasaan tapi cinta yang bermekaran. Di tanah istimewa ini lahir Al Imam Asy Syafi’i; mungkin di antara zaitun terbaik, anggur tersegar, farwalah yang manis & merah, serta angin Laut Tengah yang menderu gagah.

“Dulu kami meninggalkan Al Quran”, ujar si bapak dari keluarga Syamallekh itu. Perhatikan kembali kalimat-kalimatnya di awal tulisan ini yang mencerminkan pemahaman amat mendalam terhadap hakikat perjuangan. Apakah dia Syaikh, ‘Alim, Faqih? Bukan. Hanya seorang karyawan toko bersahaja. Bahkan bacaan Qurannya yang penuh semangat pun berulang-kali harus dibetulkan sebab terbiasa berdialek ‘ammiyah yang tak fasih. Tapi dari itu kita tahu; ideologi muqawamah telah tertanam ke segenap dada warga Gaza; pemimpin maupun jelata, kaya maupun papa, ‘ulama maupun biasa.

Dan kamipun menjumpai halaqah Quran itu di mana-mana; di tiap Masjid, sekolah, bahkan kantor, toko, & poliklinik. Di sebuah pusat layanan kanker yang sedang akan dikembangkan; ada ruangan penuh kanak-kanak. Bermuraja’ah dibimbing seorang perawat. Mas-ul Darul Quranil Karim, Syaikh Dr. ‘Abhdurrahman Jamal membawahi sebuah lembaga akbar yang mengelola tahfizh puluhan ribu orang; merawat hafalan; melaksanakan pengajian Tafsir, Sirah, & Hadits di berbagai Majelis; serta menyelenggarakan Daurah Shaifiyah yang alumninya kanak-kanak berhafizh lengkap dalam 2 bulan.
Apa pekerjaan utama para mujahid? Salah seorang komandan tempur berkata, “Mengaji! Kemudian mengaji! Kemudian mengaji!” Maka sungguh; senjata-senjata yang ditembakkan para pejuang Kataib ‘Izzuddin Al Qassam ke arah Zionis hanyalah kembang api perayaan dari sebuah kebangkitan yang telah tumbuh di dada orang-orang Gaza. Al Quran.

Gaza hari ini semarak oleh aneka gerai yang berebut perhatian; dari roti hingga mobil, dari es krim hingga meubel; tapi alhamduliLlah, keramaian terbesar tetap masjid-masjid kala shalat jama’ah dan halaqah Quran. Anak-anak kecil berlari di jalanan tanpa takut; cita-cita mereka semua sama & tak dapat ditawar; “Syahid fi sabiliLlah!” Bagaimana caranya? “Dengan Al Quran!”, jawab mereka. Sebab anggota Kataib ‘Izzuddin Al Qassam yang ribath di garis terdepan dipilih dari mereka yang paling mesra dengan Al Quran.

Ya Allah; jadikan kunjungan kami ke Gaza ini membuka pipa-pipa saluran keberkahan & kekudusan bumi serta penduduknya nan mulia ini untuk digerojokkan ke negeri kami. Mulia dengan Al Quran.

Salim A. Fillah
hamba Allah yang tertawan dosanya, santri yang tertahan kejahilannya, berharap ada manfaat dalam faqir & dha’ifnya
pelayan Majelis Jejak Nabi