Ads 468x60px

Rabu, 30 Mei 2012

Merpati (Jangan) Ingkar Janji

Baru kita akan sadari betapa luasnya Indonesia ini, setelah bisa meluangkan waktu untuk raun-raun / jalan-jalan ke berbagai pelosok negeri. Pekan lalu, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi Nusantara sebelah Timur agak ke Selatan. Tepatnya di kota Bima, Pulau Sumbawa yang masuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada seorang ustadz penghafal Qur'an yang nikah di situ. Bukan di kota Bimanya sih..., tapi di sebuah desa bernama Desa Rupe, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima.


Dari rumah, kami sudah berangkat qobla (sebelum) Subuh, kemudian sholat Subuh di Bandara Soetta untuk kemudian buru-buru check-in di counter Merpati Nusantara Airlines. Dengan mata agak sepet karena kurang tidur, pesawat akhirnya berangkat sekitar jam 6 pagi meninggalkan Jakarta.


Setengah jam kemudian di suatu tempat di udara entah di atas provinsi apa, tiba-tiba ada pengumuman:

"Perhatian pada seluruh penumpang, karena ada masalah teknis, pesawat akan kembali ke Bandara Soekarno-Hatta dalam waktu setengah jam lagi. Harap maklum"

Haah? Ada apa ini? Karena peristiwa pesawat Sukhoi nabrak Gunung Salak baru saja terjadi, maka semua penumpang nampak pasrah dan tidak protes jika pesawat memang harus balik kota dulu untuk perbaikan. Daripada jadi korban tragedi Sukhoi jilid 2?

Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Apalagi menunggunya lebih dari satu jam. Dan itulah yang terjadi ketika Merpati kami diperbaiki. Sudah terbayang bahwa kita semua akan telat sampai tujuan masing2. Padahal rute Merpati ini adalah Jakarta - Denpasar. Sesudah itu saya dan teman-teman akan melanjutkan ke Bima dengan pesawat lain. Adapun penumpang lain punya rute masing-masing yang berbeda beda. Ada yang akan meneruskan ke Labuanbajo, Flores, ada yang ke luar negeri yaitu ke Dili, Timor Leste. (Saya sering merasa bahwa Dili itu bukan "luar negeri". Soalnya dulu sebelum era Presiden Habibie, daerah itu kan Provinsi kita yang bernama Timor Timur.)

Ada rombongan artis dan pemain band yang ikut di pesawat itu. Salah satu yang kehadirannya cukup mencolok adalah Irwansyah. Mereka mau ngamen malam itu di Bima. Rombongan lain adalah klub free-style futsal yang mau eksebisi  futsal di depan Perdana Menteri Timor Leste. Penumpang lain punya kepentingan lain yang beragam, termasuk kami yang 'ceritanya' mau kondangan ke Bima (jauh bener yaa kondangannya..).

Setelah sedikit diberondong komplain dan pertanyaan dari penumpang-penumpang yang diburu waktu akhirnya pesawat berangkat juga pada sekitar pukul 9 pagi. Kali ini alhmadulillah, keadaan aman-aman saja. AC pesawat jadi dingin. Padahal pada penerbangan pertama AC pesawat kurang dingin, bahkan yang terasa cuma "fan" aja. Hal itu baru kita sadari setelah penerbangan kedua. Jangan-jangan karena AC rusak itulah kita balik ke Jakarta tadi. Bagaimana kalau bukan hanya AC yang terganggu, tetapi mesin pesawat juga rusak? Ngeri juga membayangkan hal itu.

Kita tiba di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali pada pukul 11 siang. Itu hari Jum'at dan mestinya yang muslim sudah siap-siap mau Sholat Jum'at. Tapi karena sedang jadi musafir maka alhamdulillah, syariat agama memberikan kemudahan untuk kita sehingga bisa nanti diganti sholat Zhuhur saja.

Tapi..., alamak... Musibah kedua datang. Pesawat Merpati "terusan" dari Denpasar ke kota-kota lain yang kami tuju sudah berangkat semua. Padahal konon di Jakarta tadi, Merpati sudah confirm bahwa penumpang dari Jakarta yang akan meneruskan penerbangan ke kota lain akan ditunggu oleh Merpati2 di Denpasar. Ternyata Merpatinya ingkar janji, tidak setia menunggu. Mereka sudah terbang semua. Saya sih bisa memaklumi, karena tentu saja penumpang asli Merpati dari Denpasar yang sudah menunggu sejak jam 7 pagi akan mencak-mencak kalau diminta cancel penerbangan sampai lima jam kemudian.

Dan sekarang yang mencak-mencak adalah rombongan Irwansyah, si penyanyi dan pemain sinetron itu. Bukan si Irwan sih yang marah, kalau dia tetap kalem jaga imej supaya citra dan kegantengan tidak berkurang :-). Manajernya lah yang naik pitam.

"Iya pak, karena pesawat lanjutan sudah tidak ada, maka Merpati akan mengganti rugi dengan menginapkan Bapak dan rombongan semalam di hotel di Bali," kata petugas Merpati.

"Oww, bukan soal hotel mbak. Tujuan kami ini bukan mau jalan-jalan ke Bali. Kami sudah teken kontrak show malam ini di Bima. Pokoknya kami harus tiba di Bima sore ini, bagaimanapun caranya. Dan itu tanggung-jawab Merpati."

"Kami sudah mencari maskapai lain Pak, tapi tidak ada lagi penerbangan ke Bima sore ini."

"Ya, pokoknya kami enggak mau tau. Carter pesawat kek, atau telpon itu Merpati yang ke Bima suruh balik lagi ke Denpasar!"

Wah!! Runyam deh urusannya. Para artis dan pemain band uring-uringan. Karena kalau tidak bisa hadir pada waktu yang ditentukan oleh event organizer di Bima, maka mereka akan kena sue (gugatan) dengan nilai yang cukup besar. Para pemain futsal juga marah, karena mereka tidak jadi main di depan Perdana Menteri Xanana Gusmao sore itu, walaupun masih bisa main di Dili keesokan harinya. Penumpang lain juga protes dengan alasannya masing-masing. Adapun kami, rombongan kondangan ke Bima, akhirnya pasang muka protes juga. Walaupun sebenarnya acara nikahnya masih besok sore dan tawaran bermalam di Bali cukup menggiurkan juga buat kami yang belum pernah ke Bali. Tapi demi solidaritas penumpang tentu saja kami harus ikut protes dong.

Negosiasi berjalan lama dan alot sekali. Apalagi kemudian ternyata ada Wakil Bupati Bima di antara penumpang yang punya bargaining power yang lebih kuat untuk melawan Merpati. Kata-kata yang terucap adalah: "Pokoknya kami harus sampai di tujuan sesuai waktu! Pokoknya Merpati harus tanggung-jawab! Pokoknya kami enggak mau tau! Pokoknya... Pokoknya... Pokoknya...!!!"

Dalam hati saya mereka-reka, ini enggak bisa selesai-selesai dong. Jelas memang sudah tidak ada pesawat lagi yang ke Bima, Labuanbajo atau Dili dari Denpasar saat itu. Termasuk pesawat carter juga sudah dihubungi tidak ada yang siap. Kecuali kalau yang memerintahkan adalah Presiden mungkin ya? Tidak ada moda transportasi lain dari Denpasar ke kota-kota tsb yang bisa memindahkan kita dalam waktu kurang dari lima jam. Perjalanan darat akan memakan waktu dua hari karena harus melewati dua laut yaitu yaitu dari Pulau Bali ke Pulau Lombok kemudian dari Pulau Lombok ke Pulau Sumbawa. Selain melewati daratan di pulau-pulau NTB yang tidak dijamin semulus di Jawa.

Waduh, saya pening juga menghadapi kengototan dari kedua belah pihak. Selain capek dan lapar, kondisi kami juga jadi mirip orang terlantar. Duduk di lantai Bandara Ngurah Rai bagian penerbangan domestik. (Kursi cuma sedikit dan kami kasih ke ibu-ibu dan para wanita saja). Sementera banyak orang termasuk turis-turis asing yang berlalu-lalang melewati kita.

Dan akhirnya waktulah yang menyelesaikan segalanya. Tawaran tertinggi dari Merpati adalah menginapkan penumpang pada hotel yang bagus di Denpasar dengan makan tiga kali ditanggung sepenuhnya. Ditambah dengan kompensasi uang sejumlah tiga ratus ribu per penumpang. Wah, Merpati menanggung rugi nih untuk penerbangan ini. Sebenarnya hal itu memang sudah diatur oleh Peraturan Menteri Perhubungan tahun 2008. Tapi jumlahnya tidaklah sebesar yang dijanjikan oleh Merpati saat itu. Akhirnya sebagian besar penumpang menerima untuk bisa bermalam di Denpasar dulu, kecuali rombongan artis. Konon mereka (para artis) langsung kembali ke Jakarta dengan maskapai lain saat itu juga. Entah berapa besar nilai kerugian yang harus dibayar Merpati pada mereka.


Dan demikianlah, kami rombongan kondangan ke Bima, akhirnya menginap di hotel Goodway, Denpasar, Bali. Hotelnya lumayan good lah... Dan pelayanannya juga baik dan penuh ramah tamah. Mungkin ini khas Bali ya? Masyarakatnya kelihatan sudah sangat "sadar wisata" sekali. Maksudnya sadar bahwa pariwisata adalah pemasukan utama mereka sehingga mereka profesional sekali dalam menghadapi tamu / turis baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dan akhirnya saya rasanya harus berterima kasih juga kepada Merpati Nusantra Airlines. Sudah 'segitunya' berkorban untuk membayar kesalahannya dalam mengatur jadwal penerbangan. Dan blessing in disguise, kesalahan itu membuat saya merasakan menginap di Bali, pulau Dewata, walaupun cuma semalam. :-)





Jakarta, 30 Mei 2012
mtz 


 

Rabu, 23 Mei 2012

Buruk Sangka Berbuah Surga


Buruk Sangka 1

Ada seorang Bapak naik kereta api dengan empat orang anaknya yang masih kecil-kecil. Mereka berangkat dari Jakarta menuju ke Surabaya dengan kereta eksekutif. Sejak dari berangkat, keempat anaknya tidak henti-hentinya bermain, bercanda, berlari-lari sepanjang gerbong kereta. Sementara si Bapak kelihatan duduk terpekur seakan tidak peduli pada tingkah anak-anaknya yang cukup menggangu penumpang lain.

Akhirnya seorang wanita muda yang duduk tidak jauh dari si Bapak memberanikan diri menegur.

“Pak, maaf ya. Apakah tidak sebaiknya anak-anak Bapak disuruh duduk saja yang tenang di dekat Bapak? Suara mereka bising sekali Pak. Tingkah mereka terlalu over. Saya sangat terganggu….. Mungkin penumpang lain juga begitu. Cuma mereka sungkan saja tidak mau menegur Bapak…… Kok Bapak tidak peduli begitu sih? Kalau enggak bisa ngurus anak, ya sebaiknya tidak usah punya anak,” demikian sergah si wanita muda pada si Bapak, dengan suara tinggi dan nada gusar. Penumpang lain mendengarkan. Sebagian bergumam tanda setuju pada si wanita.

Si Bapak mengangkat wajahnya sejenak menatap wanita itu sebentar. Hanya lima detik, untuk kemudian kembali terpekur mengalihkan pandangannya lagi ke ujung sepatunya. Sambil menghela nafas ia berkata, 

“Yah, tadinya memang saya mau melarang anak-anak saya bersenang-senang seperti itu… “

Kemudian si Bapak diam lagi, terpekur kembali, agak lama.

“Kalau Bapak tidak mau melarang, biar saya saja yang melarang mereka,” potong seorang ibu yang tidak sabar menunggu respon lanjutan dari si Bapak.

“Jangan Bu,” cegah si Bapak. Sekali lagi si Bapak menghela nafas dan kemudian melanjutkan dengan kata-kata berikut.

“Saya cuma tidak tega saja menghilangkan keceriaan anak-anak saya. Mereka baru pertama kali naik kereta api. Ini hari pertama saya melihat mereka tertawa, sejak pekan lalu. Istri saya, ibu mereka, baru saja meninggal dunia sepekan yang lalu. Saya mau membawa mereka ke rumah neneknya di Surabaya. Mudah-mudahan di sana mereka bisa melupakan duka-cita keluarga kami yang berat ini.”

Tiba-tiba gumaman penumpang berhenti. Hening. Hanya terdengar tawa ceria empat orang anak-anak yang berlari di lorong kereta. Rasa sesal menyeruak ke dalam hati para penumpang yang tadinya berburuk sangka pada sang Bapak. Si wanita muda terdiam tidak tahu harus berkata apa. Beberapa ibu menyembunyikan matanya yang membasah.

Berburuk sangka pada sang Bapak telah menimbulkan rasa sesal pada sebagian penumpang kereta api eksekutif itu. Terutama pada si wanita muda. “Mengapa aku langsung menyerang dia dengan kata-kata kasar tadi, tanpa tahu duduk persoalannya terlebih dulu?” pikirnya penuh rasa bersalah.


Buruk Sangka 2

Berprasangka buruk pada orang lain itu pada umumnya tidak baik. Seperti contoh pada cerita pertama (Buruk Sangka 1). Buruk sangka yang berakhir pada penyesalan. Buruk sangka atau su’u zhon, terutama akan menjadi sangat buruk jika targetnya adalah saudara atau sahabat kita. Masa’ ente enggak percaya sih sama saudara sendiri? Ente enggak punya trust banget sama ane?!

Buruk sangka akan amat sangat buruk jika targetnya adalah Sang Maha Pencipta, alias Allah SWT. Yang dimaksud dengan su’u zhon pada Allah contohnya adalah jika kita banyak mengeluh dan merasa bahwa Allah telah berlaku tidak adil pada kita. Kalau kita dapat musibah sedikit saja, sudah merasa bahwa kita adalah orang paling sial sedunia. Biasanya kemudian timbul pertanyaan: “Kenapa saya? Kenapa saya mendapat musibah ini? Why me? Tuhan benar-benar tidak adil!”

Konon di negeri Paman Sam pernah ada tuntutan tidak masuk akal yang didaftarkan ke pengadilan sipil setempat oleh seorang preman. Objek yang dituntutnya adalah: Tuhan. Isi tuntutan: bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil dan sewenang-wenang dengan menggariskan takdir Mister Preman tadi menjadi orang jahat, tidak pernah kaya dan selalu ketiban sial. Tuntutan yang benar-benar konyol. Dalam bahasa kita di Indonesia, itu adalah buruk sangka yang sangat keterlaluan terhadap Allah SWT. Untungnya tuntutan itu tidak dipenuhi oleh Pengadilan AS. Mungkin bisa meletus Perang Dunia ketiga jika tuntutan gila itu dipenuhi ;-)

Cerita sebaliknya adalah dari Menteri Kesehatan kita, almarhumah ibu Endang Sri Rahayu. Ketika beliau diketahui menderita kanker paru ganas, tidak terlihat rasa kecewa atau marah dari ibu Endang pada Allah SWT. Justru beliau ber-husnu-zhon (bersangka baik) bahwa pasti Allah SWT memperlihatkan hikmah-Nya. Beliau justru membandingkan kenikmatan yang telah diterimanya selama ini, seperti memiliki keluarga yang pintar, baik dan penuh cinta, harta yang cukup, ilmu yang tinggi, dengan cobaan ‘kecil’ yang dideritanya. Menurut beliau jauh lebih besar kenikmatan yang telah dia terima daripada keburukan yang menimpanya. Sehingga dengan pasrah dan tawakkal, ibu Endang menerima takdir bahwa paru-parunya menjadi tempat bersemayam virus kanker yang ganas.

Itulah salah satu contoh husnu-zhon pada Allah SWT yang patut ditiru oleh semua orang. Setelah kita melakukan ikhtiar dengan optimal, maka kita bersangka baik bahwa Allah SWT akan menggariskan takdir-Nya pada kita dengan sifat ke-Maha Besar-annya. Dan itu jalan hidup kita yang terbaik.

Buruk Sangka 3

Tapi ternyata ada buruk sangka (su’u zhon) yang dianjurkan. Yaitu berburuk sangka pada diri kita sendiri. Maksudnya seperti apa?

Su’u zhon yang dimaksud di sini adalah buruk sangka terhadap amal-amal yang telah kita lakukan. Kita dianjurkan memandang remeh pada perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan. Ada banyak orang yang berbuat lebih baik dari kita. Amal-amal sholeh kita itu tidak ada artinya dibandingkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Pahala yang mungkin kita dapat dari amalan kita masih jauh dari cukup untuk memasukkan kita ke surga. Demikian seterusnya, kita bersangka buruk bahwa amal-amal kita belum banyak dan belum tentu diterima, kita kurang ikhlas, kerja kita kurang optimal. Dan lain sebagainya.

Dengan demikian kita terpacu untuk terus memperbaiki amal-amal kita dan terus menambah perbuatan-perbuatan baik kita.

Ketika Abu Bakar Shiddiq ra dipuji orang karena khutbahnya yang bagus, beliau menjadi sangat bersedih. Karena beliau merasa bahwa amal-amalnya masih jelek, jauh di bawah daripada yang disangkakan orang kepadanya. Sehingga beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka persangka-kan. Dan ampunkanlah keburukan-keburukanku yang tidak mereka ketahui.”

Suatu ketika turun Al-Qur’an surat Al-Mu’minuun ayat 60, yaitu:


Yang artinya: “Dan orang-orang yang memberi dengan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”

Lalu Aisyah ra bertanya pada Rasululloh SAW, “Mengapa mereka merasa takut? Apakah karena mereka orang-orang yang mencuri, berzina, meminum khamr? Sehingga mereka merasa takut pada Allah?”

Rasululloh SAW menjawab, “Bukan wahai putri As-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang mendirikan sholat, berpuasa, bersedekah. Tetapi mereka takut bahwa semua amalnya itu tidak diterima oleh Allah SWT. Sehingga mereka selalu bersegera untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Dan merekalah orang-orang yang akan segera menerima kebaikan itu.”

Jadi orang-orang yang digambarkan di surat Al-Mu’minuun ayat 60 tersebut adalah orang-orang yang ber-sangka buruk terhadap amal-amalnya. Mereka sudah banyak melakukan sholat, puasa, sedekah. Akan tetapi mereka menganggap amal-amal itu masih sangat sedikit. Mereka ber-su’u zhon bahwa amal-amal itu belum dapat mengangkat mereka ke surga. Akibatnya mereka terus berupaya untuk menambah amal-amal mereka dengan senantiasa bersegera untuk melakukan kebaikan kebaikan lain dimanapun dan kapanpun. Dan Rasululloh SAW menjanjikan kebaikan-kebaikan yang banyak untuk mereka. Dan mereka akan kembali kepada Allah SWT dengan membawa amal-amal kebajikan yang banyak.

Itulah dia buruk sangka yang berbuah surga. Buruk sangka terhadap amal-amal kita sendiri. Semoga kita terus ber-fastabiqul khoirot, berlomba-lomba mengerjakan kebaikan-kebaikan karena amal-amal kita memang senantiasa tidak cukup untuk membawa kita ke surga jannatuna’im. Kecuali jika Allah SWT memberikan Rahmat-Nya pada kita. Wallahu’alam.

Senin, 21 Mei 2012

Hidayat Nur Wahid

Ini adalah tulisan ustadz Nabil Al-Musawa tentang Dr Hidayat Nur Wahid ketika Dr HNW masih menjabat Ketua MPR-RI. Tahun berapa itu ya? Saya tidak sengaja menemukannya kembali ketika browsing blog-blog pribadi. Ini adalah ungkapan hati dari seorang murid (Ustadz Nabil) tentang gurunya (Ustadz HNW).

Mudah-mudahan Ustadz Hidayat Nur Wahid masih seperti yang tertulis di bawah ini :-).

Aslinya bisa dilihat di alamat:
http://hafez.wordpress.com/2009/04/30/air-mata-saya-menetes-di-rumah-dr-hidayat-nurwahid/#more-660


AIR MATA SAYA MENETES DI RUMAH DR HIDAYAT NURWAHID

BismiLLAAHir RAHMAANir RAHIIM,

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk ikut dalam acara buka bersama dengan Ketua MPR-RI, DR Muhammad Hidayat Nurwahid, MA di rumah dinasnya, kompleks Widya Chandra dengan beberapa ikhwah. Ketika saya masuk ke rumah dinas beliau tsb, maka dalam hati saya bergumam sendiri: Alangkah sederhananya isi rumah ini.

Saya melihat lagi dengan teliti, meja, kursi2, asesori yg ada, hiasan di dinding. SubhanaLLAH, lebih sederhana dari rumah seorang camat sekalipun. Ketika saya masuk ke rumah tsb saya memandang ke sekeliling, kebetulan ada disana Ketua DPR Agung Laksono, Wk Ketua MPR A.M Fatwa, Menteri Agama, dan sejumlah Menteri dari PKS (Mentan & Menpera) serta anggota DPR-RI, serta pejabat2 lainnya.

Lagi2 saya bergumam: Alangkah sederhananya pakaian beliau, tidak ada gelang dan cincin (seperti yg dipakai teman2 pejabat yg lain disana). Ternyata beliau masih ustaz Hidayat yg saya kenal dulu, yg membimbing tesis S2 saya dg judul: Islam & Perubahan Sosial (kasus di Pesantren PERSIS Tarogong Garut). Terkenang kembali saat2 masa bimbingan penulisan tesis tsb, dimana saya pernah diminta datang malam hari setelah seharian aktifitas penuh beliau sebagai Presiden PKS, dan saya 10 orang tamu yg menunggu ingin bertemu.

Saya kebagian yg terakhir, ditengah segala kelelahannya beliau masih menyapa saya dg senyum : MAA MAADZA MASAA’ILU YA NABIIL? Lalu saya pandang kembali wajah beliau, kelihatan rambut yg makin memutih, beliau bolak-balik menerima tamu, saat berbuka beliau hanya sempat sebentar makan kurma & air, karena setelah beliau memimpin shalat magrib terus banyak tokoh yg berdatangan, ba’da isya & tarawih kami semua menyantap makanan, tapi beliau menerima antrian wartawan dalam & luar negeri yang ingin wawancara.

Tdk terasa airmata ana menetes, alangkah jauhnya ya ALLAH jihad ana dibandingkan dg beliau, saya masih punya kesempatan bercanda dg keluarga, membaca kitab dsb, sementara beliau benar2 sudah kehilangan privasi sebagai pejabat publik, sementara beliaupun lebih berat ujian kesabarannya untuk terus konsisten dlm kebenaran dan membela rakyat. Tidaklah yg disebut istiqamah itu orang yg bisa istiqamah dlm keadaan di tengah2 berbagai kitab Fiqh dan Hadits seperti ana yg lemah ini.

Adapun yg disebut istiqamah adalah orang yg mampu tetap konsisten di tengah berbagai kemewahan, kesenangan, keburukan, suap-menyuap dan lingkungan yang amat jahat dan menipu. Ketika keluar dari rumah beliau saya melihat beberapa rumah diseberang yang mewah bagaikan hotel dg asesori lampu2 jalan yg mahal dan beberapa buah mobil mewah, lalu ana bertanya pd supir DR Hidayat : Rumah siapa saja yg diseberang itu? Maka jawabnya : Oh, itu rumah pak Fulan dan pak Fulan Menteri dari beberapa partai besar. Dalam hati saya berkata: AlhamduliLLAH bukan menteri PKS. Saat pulang saya menyempatkan bertanya pd ustaz Hidayat: Ustaz, apakah nomor HP antum masih yg dulu?

Jawab beliau: Benar ya akhi, masih yg dulu, tafadhal antum SMS saja ke ana, cuma afwan kalo jawabannya bisa beberapa hari atau bahkan beberapa minggu, maklum SMS yang masuk tiap hari ratusan ke saya. Kembali airmata saya menetes. alangkah beratnya cobaan beliau & khidmah beliau untuk ummat ini, benarlah nabi SAW yang bersabda bahwa orang pertama yg dinaungi oleh ALLAH SWT di Hari Kiamat nanti adalah Pemimpin yang Adil. Sambil berjalan pulang saya berdoa : Ya ALLAH, semoga beliau dijadikan pemimpin yg adil & dipanjangkan umur serta diberikan kemudahan dlm memimpin negara ini. Aaamiin ya RABB.

Penulis: Nabil Almusawa e: nabielfuad@yahoo.com

Rabu, 16 Mei 2012

Delapan Filsafat Kehidupan

Konon ini adalah nasehat dari Chinese Book of Wisdom. Saya tuliskan kembali dengan editan sana sini supaya lebih mudah dicerna.
  1. Hujan deras adalah tantangan. Jangan minta agar hujan dikecilkan tetapi sediakanlah payung yang lebih besar.
  2. Waktu banjir, ikan makan semut. Tetapi waktu banjir surut, semut makan ikan. Ada giliran untuk berada di atas atau di bawah pada setiap makhluk.
  3. Hidup bukanlah peduli di permulaannya saja, tetapi seberapa besar kepedulian kita sampai akhir.
  4. Orang sering melempar batu di jalan kita. Tergantung pada kita, apakah kita akan membuat batu itu menjadi tembok, ataukah kita jadikan jembatan.
  5. Setiap masalah memiliki (n + 1) solusi. Dimana n adalah solusi-solusi yang telah kita coba dan 1 adalah yang belum dicoba.
  6. Tidaklah penting untuk memiliki semua "kartu bagus" di kehidupan ini. Yang penting adalah seberapa bagus kita memainkan kartu-kartu itu.
  7. Seringkali kita putus asa dan mengira bahwa ini adalah sebuah akhir. Hei, tenanglah dulu. Sebelum kita mati, itu bukan akhiran, tetapi baru belokan. Milikilah iman yang teguh, kokoh dan pantang putus asa.
  8. Hanya ada dua tipe manusia yang berbahagia di dunia ini: Orang Gila dan Anak-anak. Maka jadi gila-lah untuk mendapatkan apa yang anda inginkan. Dan jadi anak-anak-lah untuk menikmati apa yang telah anda dapatkan.
Bagaimana? Mudah-mudahan anda bisa tersenyum sekarang ;-)

Jakarta, 16 Mei 2012
mtz