Ads 468x60px

Senin, 19 November 2012

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Taufik Ismail




Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu,
serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku,
meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan,
lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam file lemari kantor agraria,
serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah
dan sepatu-sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua,
serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam,
di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi air mataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu...


Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka,
menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,
siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,
pembelit leher lawan mereka,
penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu,
darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi

‘Allahu Akbar!’
dan

‘Bebaskan Palestina!’


Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika,
mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara, membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia,
membantai di Shabra dan Shatila,
mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda,
aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia: doakan kolektif dengan kuat
seluruh dan setiap pejuang yang menapak jalanNya,
yang ditembaki dan kini dalam penjara,
lalu dengan kukuh kita bacalah

‘laquwwatta illa bi-Llah!’


Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu...

Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

1989

Minggu, 28 Oktober 2012

Kata Guru Mesir tentang Indonesia

Guru Mesir itu bercerita dengan bahasa campur-campur. Arab, Inggris, Indonesia. Tapi saya tulis di sini dengan Bahasa Indonesia saja ya, biar lebih mudah dipahami... ;-)

"Dulu ketika di Mesir, teman saya bilang, kamu ke Indonesia saja. Itu negara Islam yang terbesar"

Negara Islam? Bukan ustadz. Dasar negara kami bukan Islam. Dan juga tidak yang terbesar. Mungkin maksudnya penduduk Islamnya terbesar.

"Oh, iya. Mungkin maksudnya begitu. Jadi saya ya.. ke Indonesia. Karena ada tawaran jadi guru bahasa Arab di sini. Saya bawa istri dan anak2 saya ke sini. Wah, Indonesia itu negeri indah ya. Penduduknya juga ramah-ramah..."

Itu pernyataan standar ustadz... :-)

"Tapi saya lihat di sini bebas benar ya? Tadinya saya kira Indonesia itu mirip dengan di Mesir. Tidak banyak wanita jalan-jalan dengan "telanjang". Tidak bebas untuk beli minuman keras. Siaran televisinya sopan. Ehh, ternyata kebalikannya."



Nah, baru deh, komentar yang non-standar. Cukup nyelekit nih... ;-(
Enggak juga sih ustadz. Sekarang wanita berjilbab makin banyak dan boleh menjadi anchor / pembawa acara di TV. Di Indonesia juga banyak acara2 TV "Islami" seperti Mamah Dedeh, Yusuf Mansyur, Sinetron2 "Islami"...

"Apa dulu waktu jaman Suharto seperti ini juga? Kayaknya sekarang sudah terjangkit gerakan freedom ya? Semacam gerakan Liberalisme begitu?"

Waduh, jaman Suharto dulu kayak gini juga gak ya? Saya kok tidak terlalu ingat ya... Mungkin dari segi kebebasan tidak separah sekarang lah...

"Ada ulama enggak sih di Indonesia? Mestinya tugas ulama mengingatkan ummatnya. Saya kok tidak melihat peran ulama dipentingkan di Indonesia."

Tepat ustadz! Ulama memang tidak terlalu penting bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Kadang2 karena si Ulama-nya tidak menganggap penting masyarakat juga sih... ;-(

"Saya pernah malam2 lewat toko 7eleven. Kok disitu banyak anak2 muda yang lagi minum minuman keras ya? Emang enggak dilarang ya?"

Wah, wah, wah... di Mesir enggak ada yang kayak gituan ya, ustadz?

"Harusnya para Ulama mengingatkan Pemerintah untuk membuat aturan yang melarang minum dan memperjual-belikan minuman keras di tempat2 umum."

Ada enggak ya larangannya di Indonesia? Mestinya ada..., Perda atau apalah... Ataukah Perdanya melanggar HAM sehingga di-anulir?

"Yang lucu, ketika awal2 tinggal di Indonesia, saya lugu sekali. Suatu ketika saya mau sholat di mesjid. Karena istri saya sedang tidak sholat, maka saya tinggal dia duduk di taman sebuah mesjid. Kemudian saya masuk ke mesjid itu."

Hmmm, lalu ustadz...?

"Tapi tiba2 saya merasa ada seorang wanita yg mengikuti. Dia cuma memakai celana pendek dan rambutnya terurai lepas. Lho ini siapa? Kok masuk mesjid juga? Kenapa dia ngikutin saya? Kalau di Mesir, mesjid2 kami terpisah antara laki-laki dan perempuan. Sangat terpisah. Kalau di Indonesia tampaknya cuma dibatasi kain setengah badan saja ya?"

Aduh, mungkin si cewek itu mau ikut sholat ustadz? Jangan su'u-zhon gitu dong ustadz...

"Ya, ternyata wanita itu mau sholat. Dia mengambil mukenah dari lemari mesjid kemudian memakainya dan berdiri di belakang saya. Ohhh..., dia mau jadi ma'mum di belakang saya."

Nah, benar kan. Niat dia baik tuh ustadz...

"Akhirnya saya sholat jadi imam dia. Sampai selesai. Saya duduk berdzikir ba'da sholat. Eh, si wanita itu kok langsung berdiri dan langsung membuka lagi jilbabnya (mukenahnya maksudnya). Kemudian mengibas-ngibaskan rambutnya. Astaghfirullohal'adzhim... Dia masih di mesjid, tetapi mengapa sudah membuka bajunya sedemikan rupa? (Maksudnya tampil dengan celana pendek lagi) Saya jadi tidak bisa konsentrasi. Cepat-cepat saya selesaikan dzikir saya. Kemudian saya keluar mesjid, menemui istri saya dan cepat pergi dari situ."

Wah, ustadz... Afwan jiddan, maaf sekali ustadz atas ketidak-nyamanan tersebut. Ya, insya Allah pelan-pelan kita akan perbaiki deh ya... Mudah2an ustadz juga bisa membantu....

Kemudian saya dan ustadz guru Bahasa Arab dari Mesir itu tertawa bersama. Tetapi tawa saya rasanya kecut, sementara tawa ustadz terdengar prihatin...

Ummattii ... ummattiii.... (umatku... umatku...) begitu bisikan Kanjeng Nabi Muhammad shalalhu alaihi wassalammm....


Rabu, 06 Juni 2012

Lelaki yang Paling Baik

Ini ada kisah Rasululloh SAW yang sangat menggetarkan hati. Saya "copas" dari:
http://kisahislami.com/kenapa-pada-hari-ini-tidak-kau-berikan-gelas-itu/#comment-1483
Silakan surfing langsung ke alamat tersebut untuk membaca kisah-kisah lainnya.


Kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu ?

Pernah suatu hari Rasulullah SAW pulang dari perjalanan jihad fisabilillah. Beliau pulang diiringi para sahabat. Di depan pintu gerbang kota Madinah nampak Aisyah r.a sudah menunggu dengan penuh kangen. Rasa rindu kepada Rasulullah SAW sudah sangat terasa. Akhirnya Rasulullah SAW tiba juga di tengah kota Madinah. Aisyah r.a dengan sukacita menyambut kedatangan suami tercinta.

Tiba Rasulullah SAW di rumah dan beristirahat melepas lelah. Aisyah di belakang rumah sibuk membuat minuman untuk sang suami. Lalu minuman itupun disuguhkan kepada Rasulullah SAW. Beliau meminumnya perlahan hingga hampir menghabiskan minuman tersebut.

Tiba tiba Aisyah berkata, “Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?”

Rasulullah SAW diam dan hendak melanjutkan meminum habis air digelas itu.

Dan Aisyah bertanya lagi, "Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?”

Akhirnya Rasulullah SAW memberikan sebagian air yang tersisa di gelas itu. Aisyah r.a meminum air itu dan ia langsung kaget terus memuntahkan air itu.Ternyata air itu terasa asin bukan manis. Aisyah baru tersadar bahwa minuman yang ia buat dicampur dengan garam bukan gula. Kemudian Aisyah r.a langsung meminta maaf kepada Rasulullah.

Itulah sebagian dari banyaknya kemuliaan akhlak Rasulullah SAW. Dia memaklumi kesalahan yang dilakukan oleh istrinya, tidak memarahinya atau menasihatinya dengan kasar. Rasulullah SAW memberi kita teladan bahwasanya akhlak yang mulia bisa kita mulai dari lingkungan terdekat dengan kita. Sebuah hadits menyebutkan, “Lelaki yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya kepada istrinya”. Semoga kita diberi taufik untuk bisa meneladani akhlak Rasulullah SAW.


Rabu, 30 Mei 2012

Merpati (Jangan) Ingkar Janji

Baru kita akan sadari betapa luasnya Indonesia ini, setelah bisa meluangkan waktu untuk raun-raun / jalan-jalan ke berbagai pelosok negeri. Pekan lalu, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi Nusantara sebelah Timur agak ke Selatan. Tepatnya di kota Bima, Pulau Sumbawa yang masuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada seorang ustadz penghafal Qur'an yang nikah di situ. Bukan di kota Bimanya sih..., tapi di sebuah desa bernama Desa Rupe, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima.


Dari rumah, kami sudah berangkat qobla (sebelum) Subuh, kemudian sholat Subuh di Bandara Soetta untuk kemudian buru-buru check-in di counter Merpati Nusantara Airlines. Dengan mata agak sepet karena kurang tidur, pesawat akhirnya berangkat sekitar jam 6 pagi meninggalkan Jakarta.


Setengah jam kemudian di suatu tempat di udara entah di atas provinsi apa, tiba-tiba ada pengumuman:

"Perhatian pada seluruh penumpang, karena ada masalah teknis, pesawat akan kembali ke Bandara Soekarno-Hatta dalam waktu setengah jam lagi. Harap maklum"

Haah? Ada apa ini? Karena peristiwa pesawat Sukhoi nabrak Gunung Salak baru saja terjadi, maka semua penumpang nampak pasrah dan tidak protes jika pesawat memang harus balik kota dulu untuk perbaikan. Daripada jadi korban tragedi Sukhoi jilid 2?

Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Apalagi menunggunya lebih dari satu jam. Dan itulah yang terjadi ketika Merpati kami diperbaiki. Sudah terbayang bahwa kita semua akan telat sampai tujuan masing2. Padahal rute Merpati ini adalah Jakarta - Denpasar. Sesudah itu saya dan teman-teman akan melanjutkan ke Bima dengan pesawat lain. Adapun penumpang lain punya rute masing-masing yang berbeda beda. Ada yang akan meneruskan ke Labuanbajo, Flores, ada yang ke luar negeri yaitu ke Dili, Timor Leste. (Saya sering merasa bahwa Dili itu bukan "luar negeri". Soalnya dulu sebelum era Presiden Habibie, daerah itu kan Provinsi kita yang bernama Timor Timur.)

Ada rombongan artis dan pemain band yang ikut di pesawat itu. Salah satu yang kehadirannya cukup mencolok adalah Irwansyah. Mereka mau ngamen malam itu di Bima. Rombongan lain adalah klub free-style futsal yang mau eksebisi  futsal di depan Perdana Menteri Timor Leste. Penumpang lain punya kepentingan lain yang beragam, termasuk kami yang 'ceritanya' mau kondangan ke Bima (jauh bener yaa kondangannya..).

Setelah sedikit diberondong komplain dan pertanyaan dari penumpang-penumpang yang diburu waktu akhirnya pesawat berangkat juga pada sekitar pukul 9 pagi. Kali ini alhmadulillah, keadaan aman-aman saja. AC pesawat jadi dingin. Padahal pada penerbangan pertama AC pesawat kurang dingin, bahkan yang terasa cuma "fan" aja. Hal itu baru kita sadari setelah penerbangan kedua. Jangan-jangan karena AC rusak itulah kita balik ke Jakarta tadi. Bagaimana kalau bukan hanya AC yang terganggu, tetapi mesin pesawat juga rusak? Ngeri juga membayangkan hal itu.

Kita tiba di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali pada pukul 11 siang. Itu hari Jum'at dan mestinya yang muslim sudah siap-siap mau Sholat Jum'at. Tapi karena sedang jadi musafir maka alhamdulillah, syariat agama memberikan kemudahan untuk kita sehingga bisa nanti diganti sholat Zhuhur saja.

Tapi..., alamak... Musibah kedua datang. Pesawat Merpati "terusan" dari Denpasar ke kota-kota lain yang kami tuju sudah berangkat semua. Padahal konon di Jakarta tadi, Merpati sudah confirm bahwa penumpang dari Jakarta yang akan meneruskan penerbangan ke kota lain akan ditunggu oleh Merpati2 di Denpasar. Ternyata Merpatinya ingkar janji, tidak setia menunggu. Mereka sudah terbang semua. Saya sih bisa memaklumi, karena tentu saja penumpang asli Merpati dari Denpasar yang sudah menunggu sejak jam 7 pagi akan mencak-mencak kalau diminta cancel penerbangan sampai lima jam kemudian.

Dan sekarang yang mencak-mencak adalah rombongan Irwansyah, si penyanyi dan pemain sinetron itu. Bukan si Irwan sih yang marah, kalau dia tetap kalem jaga imej supaya citra dan kegantengan tidak berkurang :-). Manajernya lah yang naik pitam.

"Iya pak, karena pesawat lanjutan sudah tidak ada, maka Merpati akan mengganti rugi dengan menginapkan Bapak dan rombongan semalam di hotel di Bali," kata petugas Merpati.

"Oww, bukan soal hotel mbak. Tujuan kami ini bukan mau jalan-jalan ke Bali. Kami sudah teken kontrak show malam ini di Bima. Pokoknya kami harus tiba di Bima sore ini, bagaimanapun caranya. Dan itu tanggung-jawab Merpati."

"Kami sudah mencari maskapai lain Pak, tapi tidak ada lagi penerbangan ke Bima sore ini."

"Ya, pokoknya kami enggak mau tau. Carter pesawat kek, atau telpon itu Merpati yang ke Bima suruh balik lagi ke Denpasar!"

Wah!! Runyam deh urusannya. Para artis dan pemain band uring-uringan. Karena kalau tidak bisa hadir pada waktu yang ditentukan oleh event organizer di Bima, maka mereka akan kena sue (gugatan) dengan nilai yang cukup besar. Para pemain futsal juga marah, karena mereka tidak jadi main di depan Perdana Menteri Xanana Gusmao sore itu, walaupun masih bisa main di Dili keesokan harinya. Penumpang lain juga protes dengan alasannya masing-masing. Adapun kami, rombongan kondangan ke Bima, akhirnya pasang muka protes juga. Walaupun sebenarnya acara nikahnya masih besok sore dan tawaran bermalam di Bali cukup menggiurkan juga buat kami yang belum pernah ke Bali. Tapi demi solidaritas penumpang tentu saja kami harus ikut protes dong.

Negosiasi berjalan lama dan alot sekali. Apalagi kemudian ternyata ada Wakil Bupati Bima di antara penumpang yang punya bargaining power yang lebih kuat untuk melawan Merpati. Kata-kata yang terucap adalah: "Pokoknya kami harus sampai di tujuan sesuai waktu! Pokoknya Merpati harus tanggung-jawab! Pokoknya kami enggak mau tau! Pokoknya... Pokoknya... Pokoknya...!!!"

Dalam hati saya mereka-reka, ini enggak bisa selesai-selesai dong. Jelas memang sudah tidak ada pesawat lagi yang ke Bima, Labuanbajo atau Dili dari Denpasar saat itu. Termasuk pesawat carter juga sudah dihubungi tidak ada yang siap. Kecuali kalau yang memerintahkan adalah Presiden mungkin ya? Tidak ada moda transportasi lain dari Denpasar ke kota-kota tsb yang bisa memindahkan kita dalam waktu kurang dari lima jam. Perjalanan darat akan memakan waktu dua hari karena harus melewati dua laut yaitu yaitu dari Pulau Bali ke Pulau Lombok kemudian dari Pulau Lombok ke Pulau Sumbawa. Selain melewati daratan di pulau-pulau NTB yang tidak dijamin semulus di Jawa.

Waduh, saya pening juga menghadapi kengototan dari kedua belah pihak. Selain capek dan lapar, kondisi kami juga jadi mirip orang terlantar. Duduk di lantai Bandara Ngurah Rai bagian penerbangan domestik. (Kursi cuma sedikit dan kami kasih ke ibu-ibu dan para wanita saja). Sementera banyak orang termasuk turis-turis asing yang berlalu-lalang melewati kita.

Dan akhirnya waktulah yang menyelesaikan segalanya. Tawaran tertinggi dari Merpati adalah menginapkan penumpang pada hotel yang bagus di Denpasar dengan makan tiga kali ditanggung sepenuhnya. Ditambah dengan kompensasi uang sejumlah tiga ratus ribu per penumpang. Wah, Merpati menanggung rugi nih untuk penerbangan ini. Sebenarnya hal itu memang sudah diatur oleh Peraturan Menteri Perhubungan tahun 2008. Tapi jumlahnya tidaklah sebesar yang dijanjikan oleh Merpati saat itu. Akhirnya sebagian besar penumpang menerima untuk bisa bermalam di Denpasar dulu, kecuali rombongan artis. Konon mereka (para artis) langsung kembali ke Jakarta dengan maskapai lain saat itu juga. Entah berapa besar nilai kerugian yang harus dibayar Merpati pada mereka.


Dan demikianlah, kami rombongan kondangan ke Bima, akhirnya menginap di hotel Goodway, Denpasar, Bali. Hotelnya lumayan good lah... Dan pelayanannya juga baik dan penuh ramah tamah. Mungkin ini khas Bali ya? Masyarakatnya kelihatan sudah sangat "sadar wisata" sekali. Maksudnya sadar bahwa pariwisata adalah pemasukan utama mereka sehingga mereka profesional sekali dalam menghadapi tamu / turis baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dan akhirnya saya rasanya harus berterima kasih juga kepada Merpati Nusantra Airlines. Sudah 'segitunya' berkorban untuk membayar kesalahannya dalam mengatur jadwal penerbangan. Dan blessing in disguise, kesalahan itu membuat saya merasakan menginap di Bali, pulau Dewata, walaupun cuma semalam. :-)





Jakarta, 30 Mei 2012
mtz