Ads 468x60px

Minggu, 22 Juni 2014

AMANAH dan KEMPEMIMPINAN



عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, “Aku berkata kepada Rasulullah saw, ‘Wahai Rasulullah, jadikanlah aku sebagai pejabat!’ Mendengar hal itu,  beliau menepuk pundaknya seraya berkata, “Wahai Abu Dzarr engkau adalah orang yang lemah. Sementara jabatan tersebut adalah amanah. Pada hari kiamat ia bisa mendatangkan kehinaan dan penyesalan. Kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.” (HR Muslim).

Hadits di atas memberikan sebuah gambaran bahwa jabatan, apalagi kepemimpinan, merupakan urusan yang berat. Ia tidak bisa dipikul oleh orang yang lemah. Hanya “orang yang kuat” yang bisa memikulnya. Oleh karena itu, ketika Abu Dzar ra yang dikenal zuhud, sederhana, baik, salih, dan taat memintanya, Rasulullah saw terpaksa harus berterus terang meskipun sebetulnya berat. Beliau berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang lemah.”

Demikianlah Rasulullah saw memberikan sebuah pelajaran penting. Bahwa tidak sembarang orang bisa memegang sebuah jabatan kepemimpinan. Jabatan kepemimpinan bukan sebuah anugerah apalagi kehormatan dan kemuliaan yang layak untuk diperebutkan. Namun ia adalah sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Nabi saw bersabda dalam hadits yang lain,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang amir yang mengurus kondisi masyarakat adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas mereka yang dipimpinnya. (HR Muslim).


Karena kepemimpinan merupakan sebuah amanah yang berat dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt, maka yang bisa mengembannya bukan hanya orang yang jujur dan sederhana, serta bukan hanya yang baik semata. Namun yang bisa mengembannya adalah orang kuat dan orang yang amanah.  Karakter dan sifat itulah yang digambarkan oleh Allah lewat lisan putri Nabi Syuaib as yang memberikan rekomendasi kepada orang tuanya saat mengangkat Musa as sebagai pegawai dan orang kepercayaan.


Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, "Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan amanah.” (QS al-Qashash: 26).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa kekuatan Nabi Musa as tampak dari kecekatannya dalam mengambil air dari sumur. Sementara sifat amanahnya tampak pada akhlak dan adab Nabi Musa as saat berhadapan dengan wanita di mana ia bisa menjaga mata dan menundukkan pandangan.

Jadi hanya orang yang kuat dan amanah yang layak untuk menjadi seorang pemimpin. Dengan demikian, orang yang lemah meskipun amanah tidak layak menjadi pemimpin. Demikian pula dengan orang yang kuat namun tidak amanah, ia juga tidak layak menjadi pemimpin. Apalagi, jika sifat lemah dan tidak amanah bergabung di dalam diri seseorang. Kalaupun ternyata tidak ada yang memenuhi kualifikasi tersebut secara sempurna, maka paling tidak yang mendekati atau yang paling sedikit kekurangannya.


Kesadaran itulah yang ditanamkan oleh Rasul saw lewat hadits di atas. Bahwa jabatan dan kepemimpinan merupakan amanah. Tanggung jawab yang berada di pundak seorang pemimpin sangat besar. Ia harus memperhatikan kemaslahatan rakyatnya dan memberikan perlindungan kepada mereka. Kesadaran semacam inilah yang tertanam dalam pribadi Umar ibn al-Khattab ra saat menjadi khalifah dan amirul mukminin sehingga ia berkata, “Andaikan seekor bahgal  di Irak  terjerembab di daerah Irak, niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawaban kelak: mengapa engkau tidak meratakan jalannya wahai Umar?!”



Rasul saw mengingatkan bahwa siapa yang tidak bisa mengemban amanah tersebut dengan baik, serta tidak menjalankan kewajibannya secara benar, maka jabatan kepemimpinannya akan mendatangkan kehinaan dan penyesalan di hari kiamat. Ia akan mendapatkan hisab yang berat. Rasul saw juga bersabda,
"ما من إمام يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته، إلا لم يَرح رائحة الجنة، وإن ريحها ليوجد من مسيرة خمسمائة عام" .
Ketika seorang imam (pemimpin) meninggal dunia dalam kondisi mengkhianati rakyatnya, maka ia tidak akan mencium bau sorga. Padahal bau sorga sudah tercium dari jarak perjalanan lima ratus tahun. (HR al-Bukhari).
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
 Ketika seorang hamba yang diminta oleh Allah untuk menjadi pemimpin meninggal dunia dalam kondisi menipu dan mengkhianati rakyatnya, maka Allah mengharamkan sorga untuknya. (HR Muslim).


Imam Fudhayl ibn Iyadh berkata, “Hadits di atas adalah ancaman bagi setiap orang yang diberi kepercayaan mengurus urusan kaum muslim, baik urusan agama maupun dunia, namun kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap kepercayaan yang diberikan padanya dan tidak berlaku baik, entah dengan tidak menjelaskan persoalan agama kepada mereka, tidak menjaga syariat Allah dari unsur yang bisa merusak, mengubah maknanya, mengabaikan hukum-Nya, menelantarkan hak mereka, tidak memberikan perlindungan kepada mereka, tidak berjuang mengusir musuh, serta tidak berlaku adil, maka berarti ia telah mengkhianati mereka. Dan seperti yang ditegaskan oleh Nabi saw bahwa hal itu merupakan dosa besar yang  menjauhkan pelakunya dari sorga.” (Syarah an-Nawawi ala Muslim).


Itulah balasan di hari akhir bagi pemimpin yang tidak amanah, yang tidak menunaikan tugas dengan baik. Namun sebaliknya, pemimpin yang amanah, yang adil, yang dapat menjalankan tugas dengan baik, ia akan mendapatkan apresiasi dan kedudukan mulia.


Di antaranya:
" ثلاثة لا ترد دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حتى يفطر، ودعوة المظلوم
Tiga golongan yang doa mereka tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga berbuka, dan orang yang dizalimi. (HR at-Tirmidzi)


يَوْمٌ مِنْ إِمَامٍ عَادِلٍ أَفْضَلُ مِنْ عُبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً،
Satu hari yang dilalui oleh pemimpin yang adil lebih baik daripada ibadah 60 tahun. (HR ath-Thabrani).


إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ
Orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat dengan-Nya di hari kiamat adalah pemimpin yang adil (HR at-Tirmidzi).


سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ
Tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah... (HR at-Tirmidzi).

Dalam konteks saat ini, Indonesia sebagai sebuah negara berkembang dihadapkan pada berbagai persoalan rumit dan krusial. Dalam sektor ekonomi, terdapat sejumlah perusahaan asing yang dengan leluasa mengeruk aset dan kekayaan negeri ini dalam jumlah luar biasa. Dalam bidang hukum, peradilan yang mestinya menjadi sarana bagi masyarakat untuk mendapatkan keadilan masih cenderung tebang pilih karena sejumlah kepentingan yang bercampur di dalamnya. Dalam bidang sosial, konflik antar kampung, antar golongan, antar pelajar, dan antar suku masih sangat sering terjadi, terkadang hanya oleh hal yang kecil dan sepele saja. Dalam bidang politik, money politic selalui menghiasi aktivitas pemilu tanpa ada tindakan perbaikan yang bersifat nyata. Dalam bidang budaya, seni dan tradisi asing yang permisif dan merusak moral bangsa berkembang secara masif baik lewat media cetak maupun audio visual tanpa ada kemampuan untuk mengontrolnya.

Dengan berbagai kondisi di atas, adanya kepemimpinan yang berani, kuat, dan amanah menjadi sebuah keniscayaan yang harus segera dihadirkan dan diupayakan secara bersama-sama agar negeri ini menjadi Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafur  (negeri yang aman sentosa dan mendapat ampunan Tuhan).


(Materi Tarbiyah: "Kepemimpinan dalam Islam")

Senin, 10 Februari 2014

Infaq Para Sahabat Nabi Muhammad SAW


Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memotivasi para shahabat untuk berinfaq dalam perang Tabuk, dengan ganjaran yang besar di sisi Allah Ta’ala. Maka berinfaqlah para shahabat, seperti Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

Abdurrahman bin Hubab menceritakan tentang infaq Utsman, beliau berkata:


 عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَبَّابٍ قَالَ شَهِدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَحُثُّ عَلَى جَيْشِ الْعُسْرَةِ فَقَامَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَيَّ مِائَةُ بَعِيرٍ بِأَحْلَاسِهَا وَأَقْتَابِهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ حَضَّ عَلَى الْجَيْشِ فَقَامَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَيَّ مِائَتَا بَعِيرٍ بِأَحْلَاسِهَا وَأَقْتَابِهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ حَضَّ عَلَى الْجَيْشِ فَقَامَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَيَّ ثَلَاثُ مِائَةِ بَعِيرٍ بِأَحْلَاسِهَا وَأَقْتَابِهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَأَنَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ عَنْ الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَقُولُ مَا عَلَى عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ هَذِهِ مَا عَلَى عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ هَذِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ السَّكَنِ بْنِ الْمُغِيرَةِ وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ
“Aku menyaksikan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi para shahabat dalam Jaisy Al ‘Usrah (yaitu Perang Tabuk -pent), maka Utsman bin Affan berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di jalan Allah!’. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memotivasi lagi, dan Utsman kembali berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Aku akan memberikan 200 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di jalan Allah!’. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memotivasi lagi, dan Utsman kembali berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah! Aku akan memberikan 300 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di jalan Allah!’. Maka aku melihat Rasulullah turun dari mimbar dan berkata, ‘Tidak ada bagi Utsman sesuatu yang akan menimpanya setelah ini, tidak ada bagi Utsman sesuatu yang akan menimpanya setelah ini’. (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi 5/626)

Dari Abdurrahman bin Samurah radhiyallaahu ‘anhuma beliau berkata:


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ جَاءَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَلْفِ دِينَارٍ فِي ثَوْبِهِ حِينَ جَهَّزَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ قَالَ فَصَبَّهَا فِي حِجْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَلِّبُهَا بِيَدِهِ وَيَقُولُ مَا ضَرَّ ابْنُ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ يُرَدِّدُهَا مِرَارًا

“Utsman bin Affan datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa 1000 dinar dalam kantong pakaiannya, ketika itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tengah mempersiapkan pasukan dalam Jaisy Al ‘Usyrah, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menerimanya dan berkata, ‘Tidak ada yang dapat membahayakan Ibnu ‘Affan setelah hari ini (yaitu jaminan surga atas Utsman radhiyallaahu ‘anhu -pent)’, beliau mengulang-ulang perkataan ini” (Musnad Imam Ahmad 5/63)

Adapun Umar bin Khattab, beliau bershadaqah dengan separuh hartanya, dan beliau mengira itu bisa mengalahkan Abu Bakar, radhiyallahu ‘anhuma. Al Faruq sendiri yang menceritakan, beliau berkata,


 أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ قَالَ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا

“Rasululllah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami pada suatu hari untuk bershadaqah, dan waktu itu aku tengah memiliki sejumlah harta, maka aku berkata, ‘Kalau ada satu hari dimana aku bisa mengalahkan Abu Bakar, inilah harinya”. Maka aku datang dengan membawa separuh dari hartaku, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apa yang engkau nafkahkan kepada keluargamu?’, aku jawab, ‘Sejumlah itu (karena beliau membagi separuh hartanya -pent)’. Kemudian datang Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu membawa semua yang ia miliki, dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’, Abu Bakar menjawab, ‘Aku tinggalkan untuk mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Aku pun berkata, ‘Tidak akan pernah aku mengalahkan Abu Bakar selama-lamanya’”. (Sunan Abi Daud 2/312 dan 313, no. 1678)
 

Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf berinfaq dengan 2000 dirham, dan itu adalah separuh dari harta yang beliau miliki saat itu, untuk keperluan perang Tabuk (lihat As Sirah fi Dhau’ Al Mashadir Al Ushuliyah hal. 616)
 

Juga diriwayatkan bahwa shahabat lainnya berinfaq dalam jumlah yang besar, seperti Al ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Muhammad bin Maslamah, dan ‘Ashim bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhum (lihat Al Maghazi Al Waqidi 3/391)
 

Tidak ketinggalan, para shahabat yang berasal dari golongan fuqara’, mereka juga menyumbangkan apa yang mereka miliki. Hal ini kemudian menjadi bahan  sindiran dan ejekan kaum munafiqin. Alkisah, Abu ‘Uqail datang dengan membawa setengah sha’ kurma, kemudian kaum munafiqin datang dengan membawa infaq yang lebih banyak, dan berkata, “Sungguh Allah tidak butuh atas shadaqah sesedikit itu, tidaklah orang berinfaq sedemikian rupa melainkan hanya untuk riya’”. Kemudian turun ayat:

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ

“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya” 
(QS. At Taubah : 79)
 

Maka setelah turun ayat tersebut, mereka ganti berkata, “Tidaklah (Abdurrahman) Ibn ‘Auf bersedekah melainkan karena riya”. Mereka pun mempermasalahkan shadaqah orang-orang kaya dengan sebutan riya’, dan mengejek shadaqah orang-orang faqir.
 

Maka bersedihlah para fuqara’ dari kalangan mukminin, karena mereka tidak memiliki harta yang dapat digunakan untuk berjihad. Adalah ‘Ulbah bin Zaid, ia shalat malam dan menangis dalam shalatnya, beliau berkata, “Ya Allah sungguh Engkau telah perintahkan aku untuk berjihad, dan aku sangat ingin untuk itu, namun tidak Engkau jadikan di sisiku ini apa yang dapat membantuku dalam memperkuat kedudukan Rasul-Mu”. Maka hal ini pun sampai kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau mengabarkan bahwa ‘Ulbah telah diampuni. (diriwayatkan dari jalur yang lemah, namun terdapat beberapa syahid yang shahih, lihat Al Mujtama’ Al Madani lil ‘Umari hal. 235)
 

Dalam kisah ini dapat dipetik pelajaran tentang keikhlasan, dan cinta akan jihad dalam rangka menolong agama Allah dan menyebarluaskannya. Terdapat juga faidah betapa lembutnya Allah terhadap kaum dhu’afa dari kalangan mukminin, yang mereka sangat bersemangat untuk beramal (lihat Muhammadur Rasulullah, Shadiq ‘Arjun 4/443)
 

Ada pula sebagian shahabat yang menyumbangkan tenaga. Kaum ‘Asy’ariyun dipimpin oleh Abu Musa Al Asy’ari meminta kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sejumlah unta dan kendaraan agar dapat turut serta dalam jihad. Namun tidak ada unta yang dapat dinaiki dan berselang beberapa waktu, akhirnya mereka memperoleh tiga ekor unta. (lihat Al Mujtama’ Al Madani hal. 236)
 

Mengenai segolongan kaum mukminin yang lemah, sakit, dan tidak mampu berangkat jihad, Allah Ta’ala berfirman:

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ
 

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.”
(QS. At Taubah : 91-92)

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kelompok yang tertahan dari jihad:


إِنَّ أَقْوَامًا بِالْمَدِينَةِ خَلْفَنَا مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلَا وَادِيًا إِلَّا وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ حَبَسَهُمْ الْعُذْرُ
 

“Sungguh di Madinah terdapat kaum yang tidak ikut berperang, tidak ikut mendaki bukit, menuruni lembah, namun mereka bersama kalian (dalam pahala -pent).” Maka para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mereka ada di Madinah?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka ada di Madinah, tertahan karena ada udzur” (HR Bukhari dalam Kitab Al Maghazi, no. 4423)


Sumber: http://yhougam.wordpress.com/2013/01/06/perang-tabuk-bagian-ii-infaq-para-sahabat/


Senin, 30 Desember 2013

Remaja Fasih 20 Bahasa

Ini adalah remaja Amerika yang menguasai lebih dari 20 bahasa dengan cukup fasih. Termasuk Bahasa Perancis, Bahasa Arab, Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia!

Orang-orang seperti ini disebut sebagai Polyglot. Mengagumkan! :-)


 

Bisa juga dilihat di sini:


Ini Tim dengan Bahasa Indonesia:

 


Ada remaja lain, dari Amerika juga tetapi keturunan Asia, yang belajar Bahasa Indonesia secara otodidak. Linknya di sini:


Dan link berikut adalah remaja dari Ukraina yang juga Polyglot:


Courtesy of Youtube! 

Kamis, 19 Desember 2013

Anak Seorang Imam dan Nenek Amsterdam

Setiap selesai sholat Jum'at tiap pekannya, seorang Imam (masjid) dan anaknya (yang berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku – buku islam, diantaranya buku At-Thoriq Ilal Jannah (Jalan Menuju Surga). Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran kota Amsterdam.



Namun tibalah suatu hari, ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin. Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin.



Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, aku telah siap"

Ayahnya menjawab : "Siap untuk apa?"

Ia berkata: "Untuk membagikan buku (seperti biasanya)"

Sang ayahpun berucap: "Suhu sangat dingin diluar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur".

Sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan: "Akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju neraka di luar sana dibawah guyuran hujan"

Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata: "
Namun ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini"

Akhirnya anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak dan akhirnya memberikan izin. Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata: "terimakasih wahai ayahku".

***

Di bawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.

***

Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya. Namun sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah disebrang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.

Sesampainya di depat rumah, iapun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya. Sebenarnya ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut.

Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih. Nenek berkata: "Ada yang bisa saya bantu nak?"

Si anak berkata (dengan mata yang berkilau dan senyuman yang menerangi dunia): "Saya minta maaf jika mengganggu, akan tetapi saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan nyonya. Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada nyonya, di dalam nya dijelaskan tentang Allah Ta'ala, kewajiban seorang hamba, dan tips-tips memperoleh keridhoan-Nya.



***

Satu pekan berlalu, seperti biasa sang Imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah ia mempersilahkan jama'ah untuk berkonsultasi. Terdengar sayup – sayup dari shaf perempuan seorang perempuan tua berkata:"Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya. Satu pekan yang lalu saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini".

Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu.
Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sdh kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel.

Aku terdiam sejenak dan berpikir: "Paling sebentar lagi juga pergi".

Namun suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati: "Siapa gerangan yang sudi mengunjungiku,… tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku"

Kulepaskan tali yang s
udah siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. Ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian.
Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali.

Ia berkata: "Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah Ta'ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya", lalu dia memberikan buku ini (buku Jalan Menuju Surga) kepadaku.

Malaikat kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan hari itu juga secara tiba2. Setelah menutup pintu aku langsung membaca buku dari malaikat kecilku itu sampai selesai. Seketika kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi.

Sekarang lihatlah aku, diriku sangat bahagia karena aku telah mengenal Tuhanku yang sesungguhnya. Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterimakasih kepada kalian yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada waktu yang tepat. Hingga aku terbebas dari kekalnya api neraka.

***

Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung, masjid bergemuruh dengan isak tangis dan pekikan takbir… Allahu akbar…

***

Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk dan memeluknya erat, dan tangisnyapun pecah tak terbendung dihadapan para jamaah.
Sungguh mengharukan, mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.

***

Judul asli : قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة
Penerjemah : Shiddiq Al-Bonjowiy