Ads 468x60px

Sabtu, 25 Juli 2015

BERSYUKUR

Ni'mat paling besar bagi manusia adalah ni'mat Hidayah Islam dan Iman. Sebab seorang manusia yg mati dalam keadaan muslim maka ia dijamin masuk surga (walaupun mungkin mampir ke neraka dulu). Artinya sejarah hidupnya akan happy ending di suatu kehidupan yg sesungguhnya. Yaitu hidup yg abadi di surga forever!

Itu adalah ni'mat yg harus paling kita syukuri. Sehingga hal2 yg menaikkan keimanan dan keislaman, harus selalu kita syukuri. Misalnya kesempatan untuk bisa berpuasa di bulan Ramadhan. Kesempatan beribadah sholat wajib, tarawih, qiyamulail, tilawah, shodaqoh, i'tikaf, silaturahim..., itu semua adalah ibadah yg akan meninggikan iman kita. Bersyukurlah karena Allah swt memberikan kesempatan pada kita untuk melakukan semua itu dalam keadaan aman, lancar dan tenteram. Kalau perlu, kita harus banyak2 bersujud syukur untuk hal itu.



Jangan kita cuma bersyukur ketika mendapat hal2 yg bersifat material. Seperti jika beli mobil baru, kita sujud syukur. Rumah baru, sujud syukur. Bahkan calon2 penyanyi banyak yg bersujud syukur ketika menang kontes dangdut di televisi. Padahal mobil baru, rumah baru, apalagi profesi baru sebagai penyanyi dangdut, justru lebih berpotensi menjauhkan kita dari ibadah, dari Islam, dari Iman. Menjauhkan kita dari keni'matan hakiki.

Ada juga orang2 yg salah kaprah dalam mengungkapkan rasa syukurnya. Pedagang2 di penghujung Ramadhan biasanya akan berkata, "Alhamdulillah, saya bersyukur sekali dagangan saya laris manis di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini. Memang Ramadhan kali ini sangat 'berkah' bagi saya!"
Padahal dengan kesibukannya berdagang, ia jadi tidak sempat utk ibadah di 10 malam terakhir Ramadhan. Tidak sempat i'tikaf, tidak sempat tarawih. Jadi sebenarnya Ramadhan dia itu 'berkah' atau 'musibah' kah? Bukankah dengan menyia2-kan ibadah i'tikaf artinya dia akan sangat rugi karena kehilangan kesempatan mendapatkan malam qodar? Sungguh suatu rasa syukur yg salah kaprah.

Maka sudah selayaknya kita menempatkan kembali rasa syukur kita pada tempat yg tepat. Yaitu: kita mesti bersyukur ketika kita banyak mengerjakan kegiatan atau amal2 yg sholeh, yg menaikkan tingkat keimanan kita. Karena dengan demikian ni'mat sukses mendapatkan surga Jannatunnaim itu kian dekat, dengan izin Allah. Cara bersyukurnya adalah dengan terus meningkatkan intensitas ibadah kita, dzikir kita, hubungan kita dengan Allah swt. Sehingga kadar keimanan kita naik secara eksponensial.

Kita beribadah - kita bersyukur krn bisa ibadah - kita beribadah utk menunjukkan rasa syukur - kita bersyukur krn bisa ibadah -... dst.

Wallahu'alam bishawwab.

Rabu, 15 April 2015

Teman yang Terbaik

Teman yg baik bukan yg selalu menyanjung kita dan membenarkan seluruh perilaku kita.
Teman yg baik harusnya seperti cermin yg jujur mengatakan kepada kita bentuk rupa kita yg sebenarnya. 

Bahkan lebih dari itu, dia akan selalu menegur kita kalau kita salah. Dan memotivasi kita untuk selalu melakukan hal2 yg baik.
Dia juga jarang memuji kita kecuali kalau pujian itu bisa memberi efek positif pada kita dan tidak malah merusak kita. 

Allah memberikan kita kenikmatan yg luar biasa dengan memberikan teman2 terbaik bagi kita. Yaitu teman2 di lingkungan tarbiyah, harokah dakwah ini. 

Mereka selalu menyuruh kepada kebaikan. Setiap pekan mereka mengajak kita untuk berkumpul bersama mengkaji Al-Qur'an, As-Sunnah dan Al-Islam. 

Setiap hari kita diingatkan utk sholat jama'ah di mesjid, puasa wajib dan sunnah, dan berdzikir pagi dan petang. 

Mereka membangunkan kita di sepertiga malam supaya kita bisa Qiyamullail. Bahkan mereka memaksa kita utk tilawah Al-Qur'an minimal satu juz setiap hari.

Lebih2 lagi mereka mengancam kita dengan mengatakan bahwa kalau kita tidak membayar infaq maka kita tidak bisa masuk surga.

Tapi jangan khawatir, seluruh apa yg dilakukan teman yg baik itu, selalu ada sandarannya dalam Al-Qur'an dan Al-Hadist. 

Jadi memang sungguh teman2 tarbiyah kita dan jama'ah dakwah kita menjadi teman terbaik yg selalu mengupayakan agar kita bisa masuk surga. 

Nah, bukankah itu adalah ni'mat besar yg Allah berikan pada kita?

Tapi sayangnya masih ada orang2 yg menolak untuk ditemani oleh teman terbaik itu. Walaupun teman2 terbaik itu sudah sangat berdaya upaya untuk merangkulnya, ada saja orang2 yg menampik rangkulan itu. 

Subhanallah..., betapa meruginya kita jika tidak mau ditemani oleh mereka. Kalau kita menampik karunia dari Allah yg berupa "teman2 terbaik" yaitu jama'ah tarbiyah ini, bukankah itu bermakna kufur ni'mat terhadap Sang Pencipta yang Maha Baik yaitu Allah Subhana Wa ta'ala???

Naudzubillah min dzalik! 😰😰😰

Selasa, 01 Juli 2014

ETIKA Memilih PEMIMPIN

Sepanjang  sejarahnya, umat Islam tidak pernah mengenal adanya pemisahan antara agama dan daulah, kecuali setelah muncul era sekularisme pada zaman sekarang; satu hal yang justru pernah diingatkan oleh Rasulullah saw dan diperintahkan untuk dilawan.

Dalam hadist yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud, beliau bersabda,

وإن رحى الإسلام دائرة وإن الكتاب والسلطان سيفترقان فدوروا مع الكتاب حيثما دار وستكون عليكم أئمة إن أطعتموهم أضلوكم وإن عصيتموهم قتلوكم قالوا كيف نصنع يا رسول الله قال كونوا كأصحاب عيسى نصبوا على الخشب ونشروا بالمناشير موت فى طاعة الله خير من حياة فى معصية (ابن عساكر عن ابن مسعود)

“Ketahuilah, sesungguhnya bulatan penggilingan Islam terus berputar, sementara Alquran dan pemimpin (agama dan kekuasaan) akan saling berpisah.  Maka berputarlah bersama Alquran seperti apapun ia berputar. Ketahuilah, kalian akan dipimpin para penguasa yang jika kalian patuh, niscaya mereka akan menyesatkan kalian dan jika kalian membangkang, niscaya  mereka akan menghabisi kalian.” Mereka bertanya,  “Lalu apa yang harus kita lakukan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Hendaklah kalian seperti rekan-rekan Isa bin Maryam. Mereka disalib di atas kayu dan digergaji. Mati dalam ketaatan kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kedurhakaan kepada Allah.” (HR Ibnu Asakir).

Tabiat dan risalah Islam bersifat umum dan universal. Ia menyusup ke seluruh sisi kehidupan. Maka sulit digambarkan jika seorang muslim mengabaikan urusan kekuasaan dan menyerahkan kepada para ateis atau orang-orang jahat untuk memutarbalikkannya berdasarkan hawa nafsu mereka.

Dalam buku As-Siyasah Asy-Syar’iyyah disebutkan ,”Harus diketahui bahwa wilayah (pengaturan atau pemerintahan) urusan manusia merupakan kewajiban agama yang paling besar. Bahkan tidak ada artinya penegakkan agama dan dunia tanpa perwalian ini. Kemaslahatan bani Adam tidak akan berjalan secara sempurna kecuali dengan membentuk komunitas, karena sebagian diantara mereka pasti membutuhkan sebagian yang lain. Dalam komunitas itu dibutuhkan seorang pemimpin."

Hukum Memilih

Memilih pemimpin adalah bagian penting yang sangat diperhatikan dalam Islam. Syeikh Dr. Yusuf al-Qardhawi, dalam buku Fikih Daulah menegaskan bahwa memilih kandidat dalam pemilu termasuk bentuk pemberian kesaksian akan kelayakan seseorang. Karena itu, setiap pemilih harus memenuhi syarat dalam memberikan kesaksian. Misalnya memiliki sikap adil dan diridhai. Allah befirman, “Persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian.” (QS ath-Thalaq: 2)  “Dari saksi-saksi yang kalian ridhai.” (QS al-Baqarah: 282)

Sebagai konsekwensinya:
  1. Siapa yang memberikan kesaksian dengan tidak adil, misalnya dengan memilih kandidat yang tidak layak dipilih berarti ia telah melakukan dosa besar karena sama dengan memberikan kesaksian palsu. Dalam Alquran Allah menyebut kesaksian dan perkataan palsu setelah perbuatan syirik, “Oleh karena itu, jauhilah berhala-hala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS al-Hajj: 30)
  2. Siapa yang memberikan kesaksian atau suara kepada kandidat hanya dengan pertimbangan bahwa kandidat itu merupakan kerabatnya, atau ia merupakan orang yang berasal dari satu daerah, atau karena untuk mendapatkan keuntungan pribadi berarti ia telah menyalahi perintah Allah. “Hendaklah kalian menegakkan keadilan itu karena Allah.” (QS ath-Thalaq: 2)
  3. Barangsiapa yang tidak mempergunakan hak pilihnya sehingga kandidat yang mestinya layak dipilih kalah dan suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang sebenarnya tidak layak, berarti ia telah menyalahi perintah Allah untuk memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan.“Janganlah para saksi itu enggan (memberikan keterangan) apabila mereka dipanggil untuknya.” (QS al-Baqarah: 282)."Janganlah kalian (para saksi) menyembunyikan persaksian. Barangsiapa menyembunyikannya, sesungguhnya ia adalah orang yang hatinya berdosa." (QS al-Baqarah: 283)

Memilih Pemimpin

Untuk memilih pemimpin terdapat sejumlah aspek yang harus diperhatikan. Pertama terkait dengan pribadi sang calon pemimpin, dan kedua terkait dengan kolega dan orang-orang kepercayaannya.

Pertama terkait dengan pribadi calon pemimpin

Dalam Alquran dan hadits terdapat sejumlah petunjuk yang memberikan arahan kepada umat terkait dengan kriteria pemimpin atau orang yang layak diberi amanah dan kepercayaan. Dari berbagai ayat dan riwayat yang ada dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
  1. Harus memiliki visi dan misi yang jelas sesuai dengan misi penciptaannya di dunia.  Allah befirman, “Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS al-Mukminun: 115).
  2. Harus memiliki prinsip serta memiliki kemampuan melakukan inovasi dan kreasi; tidak taklid dan mengekor, serta tidak mengikuti apa kata “majikan” dan selera kebanyakan orang meskipun salah dan menyimpang. Rasul saw bersabda, “Janganlah kalian membebek dengan berkata, ‘Kalau orang lain berbuat baik, kami pun akan berbuat baik dan kalau yang lain berbuat zalim kami juga berbuat zalim. Akan tetapi, milikilah prinsip. Kalau orang lain berbuat baik, kami pun berbuat baik. Dan jika orang lain berbuat buruk, janganlah kalian berbuat zalim pula.” (HR at-Tirmidzi).
  3. Harus memiliki integritas, terutama jujur dan amanah sesuai dengan firman-Nya dalam surat Yusuf 55. Pasalnya pemimpin akan menjadi teladan dan contoh bagi masyarakatnya. Rasul saw sendiri bersabda, “Andaikan Fatimah binti Muhammad mencuri, tentu aku potong tangannya.” (HR Ahmad). 
  4. Harus bisa merangkul semua golongan dengan sikap yang baik dan bijaksana. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS Ali Imran: 159).
  5. Harus kuat secara fisik dan wawasan. Allah befirman, “Nabi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Thalut memerintah Kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, serta dia tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?’ Nabi (mereka) berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui.” (QS al-Baqarah: 247)

Kedua terkait dengan kalangan dekatnya

Hal lain yang juga harus menjadi pertimbangan dalam memilih pemimpin adalah keberadaan orang-orang kepercayaan di sekitarnya. Pasalnya, pada masa sekarang seorang pemimpin tidak bisa bertindak sendirian. Kepemimpinannya cenderung dipengaruhi oleh lingkungan partai, kelompok, dan kalangan dekatnya yang dalam bahasa agama disebut dengan bithonah. Karena itu, di samping melihat kepada sosok calon pemimpin, yang harus dilihat pula adalah siapa saja orang-orang kepercayaan yang berada di sekelilingnya.
Terkait dengan ini Allah befirman,

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (QS Ali Imran: 118).

Dalam tafsir Ibnu Katsir dan sejumlah kitab tafsir lain disebutkan, makna dari ayat di atas adalah bahwa seorang muslim tidak boleh menjadikan orang munafik, non-muslim, dan musuh secara umum sebagai  orang kepercayaan yang menjadi tempat mencurahkan berbagai informasi rahasia dan tempat meminta pertimbangan.

Inilah sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan saat memilih pemimpin. Kalaupun kemudian tidak ada kandidat yang memenuhi syarat di atas maka paling tidak yang paling mendekati. Atau kalau tidak, yang paling sedikit mudharat dan bahayanya (akhaffu adh-dhararayni).

Wallahu a’lam.




(Materi Tarbiyah: "Kepemimpinan")

Minggu, 29 Juni 2014

KEPEMIMPINAN dalam ISLAM

 Islam adalah agama yang komprehensif. Tidak ada satupun aspek dalam kehidupan ini kecuali telah diatur oleh Islam. Minimal dalam bentuk rambu-rambu umum yang menjadi pijakan dan landasan dalam mengambil keputusan. Allah befirman,
  
Kami turunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS an-Nahl: 89).

Apabila konsep sekuler Barat cenderung memisahkan antara urusan agama dan dunia, maka Islam menjadikan urusan dunia sebagai bagian dari agama. Apabila sebagian mereka berkata, agama adalah milik Allah sementara negara adalah milik manusia sehingga mereka bebas mengurus negara sesuai dengan keinginan mereka, maka Islam menegaskan bahwa agama dan negara semuanya merupakan milik Allah sehingga harus diurus sesuai dengan tuntunan-Nya. Bahkan kehidupan dan kematian kita juga merupakan milik Allah sehingga harus dipersembahkan untuk-Nya.

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).  (QS an-Nahl: 162-163).

Masalah negara, kekuasaan, dan kepemimpinan tidak bisa dipisahkan dari spirit dan nilai-nilai ajaran Islam. Nash Alquran, sejumlah riwayat, pandangan para ulama serta realitas sejarah membuktikan dan menunjukkan betapa masalah kepemimpinan mendapatkan perhatian yang cukup besar. Di antara dalil dari Alquran yang membahas tentang masalah kekuasaan dan kepemimpinan adalah:

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. (QS an-Nisa: 59).

Di antara dalil dari hadits Nabi saw adalah: 
إذا خرج ثلاثةٌ فى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أحدَهم (أبو داود ، وأبو يعلى ، والبيهقى ، والضياء عن أبى سعيد . ابن ماجه وضعفه عن أبى ذر . ابن ماجه ، والضياء عن أبى هريرة)

Jika tiga orang berada dalam sebuah perjalanan, hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin. (HR Abu Daud, Abu Ya’la dll).

Lalu sejarah juga membuktikan bagaimana ketika Nabi saw wafat, hal yang menyibukkan para sahabat adalah memilih pemimpin. Bahkan masalah memilih pemimpin ini membuat proses penguburan jasad beliau sempat tertunda.

Demikian sejumlah dalil dari begitu banyak dalil  dan riwayat menunjukkan perhatian Islam terhadap masalah kekuasaan dan kepemimpinan. Sampai-sampai Ibnu Taymiyyah dalam buku as-Siyasah asy-Syar’iyyah berkata, “Harus diketahui bahwa al-wilayah (perwalian dan kepemimpinan) urusan manusia merupakan kewajiban agama yang paling besar. Bahkan tidak ada artinya penegakan penegakan agama dan dunia tanpa adanya kepemimpinan (al-wilayah)...”

Imam al-Ghazali juga menegaskan, “Kekuasaan dan agama adalah anak kembar. Agama adalah dasar dan sultan (kekuasaan) merupakan penjaga.” (Ihya Ulumuddin I/71).

Jadi, kepemimpinan dan kekuasaan merupakan sebuah keniscayaan dan keharusan. Kepemimpinan adalah sesuatu yang inheren dalam Islam dan tidak bisa dipisahkan. Tanpa adanya kepemimpinan, yang muncul adalah kekacauan dan ketidakteraturan. Tanpa adanya kekuasaan yang mengayomi, maka yang akan lahir adalah berbagai anarki dan kerusakan.

Pada masa sekarang, kita menyaksikan betapa kerusakan, kemaksiatan dan kemungkaran begitu merajalela. Untuk memberantas korupsi yang sudah menggurita, narkoba dan miras yang beredar luas dari kota hingga ke desa-desa, pornografi dan pornoaksi yang demikian masif dipertontonkan di mana-mana, kejahatan dan penyimpangan seksual yang dilakukan tanpa mengenal batas dan norma susila, serta untuk menghadapi berbagai kemungkaran lainnya, dibutuhkan sebuah kepemimpinan yang kuat. Kepemimpinan dan kekuasaan bisa menjadi senjata yang ampuh untuk melakukan pengendalian, memberikan pengarahan, dan memberikan pencerahan kepada umat.

Tentu saja kepemimpinan yang dimaksud bukan kepemimpinan yang tiran, yang zalim, dan menyimpang. Namun kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan yang ditegakkan sesuai dengan tuntunan Islam. Yaitu sebagai berikut:

Pertama, kepemimpinan tersebut harus memastikan terlaksananya ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersifat universal.  Dengan demikian, akidah dan ibadah terjaga, akhlak dan moral terpelihara, keseimbangan antara rohani dan materi tercipta, serta amar makruf dan nahi mungkar bisa terlaksana. Islam tidak membenarkan kepemimpinan yang justru memberikan ruang dan fasilitas kepada berbagai pentas kemaksiatan, mencontohkan perilaku syirik dan klenik yang menyimpang, serta mentolerir kehadiran berbagai keyakinan dan agama sempalan.  

Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran: 104).

Kedua, kepemimpinan tersebut harus ditegakkan di atas pilar-pilar musyawarah; bukan ditegakkan di atas prinsip pemaksaan kehendak dan sikap otoriter. Inilah yang dikembangkan oleh Rasul saw dalam mengambil keputusan sebagaimana petunjuk Allah Swt,

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran: 159).

Ketiga, kepemimpinan tersebut harus memberikan pengayoman, perlindungan, dan rasa aman. Terutama kepada kalangan dhuafa, yatim, buruh, serta kalangan yang terpinggirkan; bukan malah menjadi alat dan fasilitator bagi para pengusaha dan konglomerat hitam, serta boneka bagi pihak asing yang ingin meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Karena itu khalifah pertama berkata dalam pidato pengukuhannya sebagai khalifah,

أمَّا بَعدُ أيُّهَا النَّاس ، فَإنِّي قَد وليتُ عَلَيْكُم وَلَسْتُ بِخَيْرِكُم ، فَإن أحْسَنْتُ فأعِيْنُونِي ؛ وَإنْ أسأت فقوموني ؛ الصدق أمانة ، والكذب خيانة ، والضعيف فيكم قوي عندي حتى أريح عليه حقه ...

“Amma ba’du: Wahai manusia aku telah diangkat sebagai pemimpin bagi kalian padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Oleh karena itu, jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. Orang yang kuat di tengah kalian adalah orang yang lemah di sisiku sebelum aku mengambil hak darinya. Sementara orang yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat di sisiku sebelum aku memberikan hak kepadanya.”

Keempat,  kepemimpinan tersebut harus melindungi kebebasan setiap individu terkait dengan haknya untuk melaksanakan ajaran agama, hak untuk hidup layak, hak menjaga kehormatan diri, hak menjaga harta dan hak berketurunan. Tidak boleh ada diskriminasi dan tirani. Apalagi tirani minoritas terhadap mayoritas.

Kelima, kepemimpinan tersebut harus dijalankan dengan tegas dan berani demi untuk menegakkan kebenaran. Berani dalam menentukan sikap, berani dalam mengambil keputusan, berani berkorban dan menanggung resiko, berani untuk menyampaikan pandangan baik dalam forum-forum formal maupun informal, baik dalam skala nasional maupun internasional;  serta berani melakukan negosiasi dengan negara lain dalam rangka melindungi kepentingan bangsa dan negara. Dari sini akan lahir sebuah kepemimpinan yang tegas dan berwibawa baik di mata rakyat maupun di mata internasional; bukan kepemimpinan mudah didikte, direndahkan, dan dipermainkan.

عن أبي ذر رضي الله عنه قال « : قال لي النبي صلى الله عليه وسلم : قل الحق ولو كان مرا » صححه ابن حبان(      

Nabi saw berkata kepada Abu Dzar ra, “Katakan yang benar meskipun pahit adanya.”

Begitulah bentuk kepemimpinan yang diinginkan oleh Islam. Satu bentuk kepemimpinan yang mendatangkan maslahat dan manfaat bagi umat.

Karena itu kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada orang yang tidak layak dan kepada sembarang orang. Kepemimpinan tidak boleh hanya berdasarkan fanatisme buta dan pencitraan semata. Namun ia harus didasarkan pada kemampuan, kelayakan, dan kecakapan. Jika tidak, maka kehancuran dan kerusakan yang terjadi akan bertambah parah. Rasul saw bersabda,

إذا ضيعت الأمانةُ فانتظر الساعةَ قيل كيف إضاعتُها قال إذا أُسِنْدَ الأمرُ إلى غيرِ أهلِهِ فانتظر الساعةَ (البخارى عن أبى هريرة)

“Jika amanah disia-siakan tunggulah kehancurannya”. Ada yang bertanya, “Bagaimana bentuk menyia-nyiakannya?” Beliau menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada orang yang tidak layak, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR Bukhari dari Abu Hurayrah ra). 

(Materi Tarbiyah: "Kepemimpinan")